top of page

“NOKIA TIDAK SALAH, TAPI KALAH: PELAJARAN PAHIT TENTANG TERLAMBAT BERUBAH.”

Gambar penulis: Yusrin Ahmad Tosepu
Yusrin Ahmad Tosepu
3 Okt
2 menit membaca

Diperbarui: 9 Okt


Ada sebuah kalimat yang kerap dikaitkan dengan akhir kejayaan Nokia:

“Kami tidak melakukan sesuatu yang salah, tetapi entah bagaimana kami tetap kalah.”

Terlepas dari perdebatan mengenai atribusi persis kalimat tersebut, pesannya menyimpan pelajaran penting tentang perubahan.


Nokia tidak sekadar menjadi contoh tentang sebuah perusahaan yang melakukan kesalahan. Kisah Nokia lebih dalam dari itu: sebuah perusahaan dapat kehilangan masa depan bukan hanya karena melakukan hal yang salah, tetapi karena gagal bergerak ketika dunia berubah.


Pada masanya, Nokia adalah raksasa industri telepon seluler. Produk, jaringan distribusi, teknologi, dan kekuatan mereknya membuat perusahaan tersebut berada di posisi yang sangat kuat.


Namun kemudian lanskap industri berubah. Telepon seluler tidak lagi sekadar alat komunikasi. Smartphone mengubahnya menjadi ekosistem yang mempertemukan perangkat keras, sistem operasi, aplikasi, internet, dan layanan digital. Di situlah persoalannya.


Keunggulan yang membuat Nokia berhasil pada satu era tidak otomatis menjadi keunggulan pada era berikutnya.


MASALAHNYA BUKAN SELALU KESALAHAN


Dalam bisnis, kita sering mencari penyebab kegagalan dengan pertanyaan: “Apa yang mereka lakukan salah?” Padahal ada pertanyaan yang tidak kalah penting: “Apa yang tidak mereka lakukan ketika keadaan mulai berubah?”


Perusahaan bisa saja memiliki produk yang bagus, pelanggan yang loyal, teknologi yang kuat, dan pendapatan yang besar. Tetapi semua itu dapat kehilangan relevansi ketika kebutuhan pasar berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk beradaptasi. Di sinilah kenyamanan dapat menjadi jebakan.


Kesuksesan menciptakan keyakinan bahwa cara yang selama ini berhasil akan terus berhasil. Padahal, strategi yang membawa seseorang menuju kesuksesan belum tentu menjadi strategi yang mampu mempertahankan kesuksesan tersebut.


DUNIA TIDAK MENUNGGU


Pelajaran Nokia bukan hanya untuk perusahaan teknologi. Ia berlaku bagi bisnis kecil, lembaga pendidikan, organisasi, pemerintah, bahkan individu. Teknologi berubah.

Perilaku konsumen berubah.


Model bisnis berubah. Kebutuhan masyarakat berubah. Dan kini, kecerdasan buatan kembali mempercepat perubahan tersebut.


Orang yang hari ini unggul karena satu keterampilan dapat menghadapi situasi berbeda ketika teknologi membuat keterampilan itu menjadi lebih mudah, lebih murah, atau bahkan otomatis.


Karena itu, kemampuan terpenting bukan sekadar menjadi ahli, tetapi juga mau terus belajar ketika keahlian lama mulai kehilangan relevansi.


JANGAN TERLALU NYAMAN DENGAN KEBERHASILAN


Ada ironi dalam sebuah keberhasilan. Semakin lama sebuah cara menghasilkan hasil yang baik, semakin sulit orang meninggalkannya.


Padahal perubahan sering kali tidak datang dalam bentuk peringatan. Ia datang sebagai sesuatu yang awalnya terlihat kecil.

Sebuah teknologi baru.

Pesaing baru.

Kebiasaan konsumen yang berubah.

Generasi baru dengan cara berpikir berbeda.

Lalu tiba-tiba, sesuatu yang dahulu dianggap tidak penting menjadi standar baru.


Nokia memberi kita satu pelajaran besar: tidak melakukan kesalahan bukan jaminan untuk tetap menang. Sebab dunia tidak hanya memberi penghargaan kepada mereka yang bekerja keras.


Dunia juga bergerak bersama mereka yang mampu membaca perubahan, belajar lebih cepat, beradaptasi, dan berani meninggalkan cara lama ketika cara lama tidak lagi cukup. Kesuksesan bukan tempat untuk berhenti.Kesuksesan adalah titik untuk kembali belajar.


 
 
 

Komentar


© 2018 by Yusrin Ahmad Tosepu. Makassar, Sulawesi Selatan. Indonesia 

bottom of page