Kenapa Minat Baca Mahasiswa Rendah ?
- LSP3I
- Jan 22, 2019
- 3 min read

Minat membaca berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan suatu bangsa. Kegiatan membaca merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Pendidikan selalu berkaitan dengan kegiatan belajar. Belajar selalu identik dengan kegiatan membaca karena dengan membaca akan bertambahnya pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang. Pendidikan tanpa membaca bagaikan raga tanpa ruh. Fenomena “pengangguran intelektual” tidak akan terjadi apabila mahasiswa memiliki semangat membaca yang membara.
Di negara maju, seperti Jepang, budaya membaca adalah suatu kebiasaan yang telah menjadi kebutuhan bagi masyarakatnya. Ibarat sandang, pangan dan papan, membaca merupakan bagian dari kehidupan mereka tiap harinya. Paling membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa Jepang adalah kemampuan adaptifnya, termasuk kemampuan membaca dan mempelajari budaya bangsa lain. Tidak akan dijumpai orang Jepang melamun dan mengobrol di kereta api, bus, maupun di halte, kegiatan mereka kalau tidak tidur tentu membaca.
Fenomena “pengganguran intelektual” terjadi di negeri ini, salah satu faktornya karena minat membaca mahasiswa masih dikatakan rendah. Tidaklah mengherankan bila Indeks kualitas sumber daya manusia (Human Development Index/HDI) di Indonesia juga rendah.
Bila kita analisa, rendahnya minat baca mahasiswa disebabkan karena beberapa faktor. Diantaranya yaitu :
1. Sistem pembelajaran
Sistem pembelajaran telah membuat mahasiswa cenderung pasif dan hanya mendengarkan dosen mengajar di kelas daripada mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di ruang kelas. Misalnya saja tugas diberikan oleh dosen, kebanyakan berbentuk mengerjakan soal-soal yang bersifat normatif. Hanya membahas seputar materi kuliah yang belum tuntas di ruang kelas.
Sebaiknya tugas yang diberikan lebih berbentuk sebuah proyek yang menyenangkan, dimana mahasiswa dituntut untuk banyak membaca dari berbagai literatur. Wawasan mereka akan lebih berkembang sehingga perlahan akan terbina iklim membaca. Membaca bukan dianggap sebagai hal yang membosankan dan tidak menarik, melainkan sebagai hal menyenangkan bagi mahasiswa.
Di beberapa negara maju, mahasiswa berkewajiban menamatkan buku bacaan dengan jumlah tertentu sebelum mereka menyelesaikan studi. sedangkan di Indonesia tidak ada kewajiban untuk menamatkan satu judul buku pun. Kondisi ini pun masih berlangsung hingga sekarang.
Kepedulian pemerintah dalam sistem pendidikan sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa itu sendiri.
2. Suasana perpustakaan yang kurang menarik
Sarana perpustakaan yang nyaman dan lengkap, masih merupakan barang aneh dan langka. Jumlah perpustakaan yang memadai dengan fasilitas dan koleksi buku-buku cenderung terbatas. Letak perpustakaan kebanyakan di pojok, gelap, berdebu, susunan buku kurang menarik, tempatnya juga tidak nyaman, sehingga perpustakaan bukanlah tempat yang menarik untuk di kunjungi. Jika demikian kondisinya, maka wajarlah jika minat baca mahasiswa rendah. Sebab, perguruan tingi yang terkait, belum memiliki kebijakan yang mampu membuat mahasiswanya merasa perlu membaca.
3. Sifat malas yang merajalela
Lingkungan saat ini sudah sangat modern. Namun tidak dengan sendirinya kita sebagai manusia dapat dikatakan menjadi modern. Karena kita baru bisa dikatakan modern kalau dapat merubah perilaku dan pola pikir kita. Ciri-ciri manusia modern adalah jika ia mau membuka diri terhadap pengalaman baru, inovasi dan perubahan, bukan hanya sekedar malas-malasan.
Di negara maju, misalnya Amerika Serikat dan Jepang, setiap individu memiliki waktu baca khusus dalam sehari. Rata-rata kebiasaan mereka menghabiskan waktu untuk membaca mencapai delapan jam sehari. Sementara di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap harinya. Mereka cenderung memilih untuk bersantai main game, bermalas-malasan menonton televisi atau pergi jalan-jalan ke mall atau tempat hiburan lainnya.
Masyarakat di negara maju telah memiliki motivasi intrinsik untuk membaca. Mereka paham arti pentingnya membaca yaitu merupakan aktivitas vital yang harus diselami jika ingin sukses di dunia ini. Pangan, sandang, dan papan adalah kebutuhan primer manusia secara fisik (badan), sedangkan buku dan bahan bacaan lainya adalah kebutuhan primer manusia secara non-fisik, rohani (kebutuhan otak).
4. Teknologi dan berbagai tempat hiburan
Munculnya permainan (game) yang makin canggih dan variatif serta fitur gadget yang semakin menarik, telah mengalihkan perhatian mahasiswa dari buku. Tempat hiburan yang makin banyak didirikan juga membuat anak-anak lebih banyak meluangkan waktu ke tempat hiburan daripada membaca buku.
Dengan alasan itulah, maka perguruan tinggi harus membuat kebijakan pendidikannya serta menyediakan sarana yang dapat membangkitkan motivasi dan semangat membaca mahasiswanya. Sudah selayaknya kita jadikan membaca sebagai menu harian yang hampir sebanding dengan kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Kita harus sadar bahwa membaca adalah membuka tabir masa depan, dan buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, dan pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, dan mercusuar peradaban.
Comentarios