top of page

Pendidikan Masa Depan: Fokus Pada Peserta Didik (Kajian: The Future of Global Higher Education)

  • Writer: LSP3I
    LSP3I
  • Jan 18, 2019
  • 10 min read

PENDAHULUAN


Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.


Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah memanusiawikan manusia dan membangun peradaban modern. Memanusiawikan manusia adalam arti mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang beradab, mandiri serta rasa tanggung jawab.


Pendidikan harus mampu mempersiapkan setiap individu agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran. Pendidikan merupakan salah satu agenda penting dan strategis, Sebab pendidikan adalah faktor penentu kemajuan bangsa di masa depan. Jika Indonesia berhasil membangun dasar-dasar pendidikan dengan baik, maka diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan di bidang-bidang yang lain.


Negara maju di dunia di topang oleh sumber daya manusia berkualitas sehingga memiliki keunggulan hampir di semua bidang. Pendidikan merupakan salah satu elemen paling penting dalam membangun kesejahteraan bangsa. Masalah pendidikan yang berkualitas masih belum mendapat perhatian secara professional, karena negeri ini masih lebih fokus pada sumber pertumbuhan keterampilan itu terletak konsentrasi modal fisik yang diinvestasikan dalam suatu proses produksi; seperti alat produksi modal fisik termasuk juga pembangunan infrastruktur, dan lain sebagainya untuk mempermudah transaksi kreativitas, namun lupa memacu pertumbuhan dan pengembangan SDM sebagai modal utama membangun masa depan negeri ini. SDM mempunyai nilai untuk siap menjawab tantangan di era kini dan mendatang. Bukan lain.


Pergeseran paradigm pendidikan modern yang semula bertumpuk pada kekuatan pendidikan berkualitas dapat berubah menjadi bertumpuk pada kekuatan sumber daya manusia atau lazim pula disebut pergeseran paradigm ini makin menegakkan betapa aspek pendidikan berkualitas sangat strategis dalam membangun negeri ini di segala bidang. Penegasan tentang pendidikan berkualitas memberikan konstribusi pada peningkatan SDM unggul. Hal ini berdasarkan asumsi, bahwa pendidikan akan melahirkan tenaga kerja yang produktif, karena memiliki kompetensi pengetahuan, tenaga pendidik dengan kualitas yang memadai merupakan faktor determinan bagi peningkatan kompetensi luaran institusi pendidikan.


Jadi nilai kreatif itu terletak pada sumbangan institusi pendidikan dalam menyediakan tenaga kerja terdidik, terampil, berpengetahuan dalam berkompetensi tinggi, lebih dari itu pendidikan dapat mengembangkan visi tentang kehidupan yang layak di masa depan serta menanamkan jiwa yang demokratis serta bertanggung jawab, hal tersebut secara psikologis akan melahirkan energy yang akan mendorong dan menggerakkan kerja produktif untuk mencapai kemajuan Indonesia di masa depan.


Tenaga kerja terampil akan berpengaruh lebih signifikan lagi bila diserta penguasaan teknologi, untuk mencari apa yang disebut keunggulan kompetitif, penguasaan teknologi ini sangat penting karena mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi. Penguasan teknologi itu dimungkinkan bila mana persyaratan modal manusia yang andal telah dipenuhi. Jadi, antara modal manusia dengan teknologi harus ada persiapan agar menciptakan kekuataan sinergi sehingga bisa mendorong percepatan pertumbuhan pengetahuan peserta didik.


Teknologi memainkan peran sangat penting dan determinan. Faktor teknologi menjadi sesuatu yang bersifat imperative, sebab teknologi merupakan kekuatan utama yang menggerakkan globalisasi untuk maju. Jika suatu Negara berhasil menguasai teknologi dengan baik, maka Negara tersebut kemungkinan besar bisa mengalami lompatan kemajuan yang dahsyat. Dalam hal ini, teknologi menjadi instrument bagi berlangsungnya proses kemajuan dan kesejahteraan masyarakat secara amat mendasar yang pada kekuatan.


Ini menyiratkan, bagaimana dunia pendidikan akan memainkan peran. Dunia pendidikan dapat berperan melahirkan SDM yang memiliki daya saing dan daya guna. Oleh karena itu, pendidikan amat strategis bagi masa depan bangsa. Pendidikan akan menjadi penting karena akan meningkatkan kapasitas masyarakat, apabila tingkat pendidikan masyarakat rendah, kapabilitas juga rendah. Hal ini akan berpengaruh terhadap rendahnya kemampuan untuk menangkap peluang dan ini akan berdampak luas.


PEMBAHASAN


Di era kekinian, masyarakat makin membutuhkan pusat informasi dan pengetahuan. Institusi pendidikan adalah salah satu pusat Informasi pengetahuan yang berfungsi untuk melatih setiap individu (peserta didik) agar mampu dapat bertahan dan bersaing di kini dan mendatang.

Setiap masyarakat menginginkan institusi pendidikan keunggulan dalam mencetak sumber daya manusia yang handal yang dapat memberikan peranan yang lebih bagi masyarakat.


Pemerintah dan para pemangku kepentingan pendidikan di negeri ini terus berupaya peningkatan mutu pendidikan membangun dan mengembangkan institusi pendidikan yang unggul dalam melahirkan sumber daya manusia yang handal. Bangsa yang pendidikanya maju, tentu kehidupanya juga maju, demikian pula sebaliknya. Pendidikan kita dalam hal ini harus peka terhadap persoalan masa depan, maka diperlukan visi yang sesuai dengan formasi sosial agar pendidikan dapat diterjemahkan menurut realitas sosial.


Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat kompleks dan berjangka panjang, di mana berbagai aspek yang tercakup dalam proses saling erat berkaitan satu sama lain dan bermuara pada terwujudnya manusia yang memiliki nilai hidup, pengetahuan hidup dan keterampilan hidup. Prosesnya bersifat kompleks dikarenakan interaksi di antara berbagai aspek tersebut, seperti pengajar, bahan ajar, fasilitas, kondisi peserta didik, kondisi lingkungan, metode mengajar yang digunakan, tidak selamanya memiliki sifat dan bentuk yang konsisten yang dapat dikendalikan. Hal ini mengakibatkan penjelasan terhadap fenomena pendidikan bisa berbeda-beda baik karena waktu, tempat maupun subjek yang terlibat dalam proses.


Dalam proses pendidikan tersebut diatas, kurikulum menempati posisi yang menentukan. lbarat tubuh, kurikulum merupakan jantungnya pendidikan. Kurikulum merupakan seperangkat rancangan nilai, pengetahuan, dan keterampilan yang harus ditransfer kepada peserta didik dan bagaimana proses transfer tersebut harus dilaksanakan. Berkaitan dengan kurikulum, dimensi jangka panjang ini memberikan pemahaman bahwa suatu kurikulum harus merupakan jembatan bagi peserta didik untuk dapat mengantarkan dari kehidupan masa kini ke kehidupan masa depan. Peserta didik dipersiapkan untuk dapat hidup secara layak dan bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakatnya.


Pada era revolusi industri 4.0 ini tampak bahwa yang menjadi pelopor dan penanda masa depan adalah ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) dan industri berbasis pengetahuan (knowledge-based industry). Industri berbasis pengetahuan sangat bergantung kepada inovasi sebagai kunci keberhasilan. Untuk menemukan inovasi apa yang perlu diterapkan, diperlukan research and development, penelitian dan pengembangan karena hasilnya dijadikan modal untuk mengembangkan kemampuan inovasi.


Pengembangan pendidikan dan khususnya kurikulum perlu memperhatikan kecenderungan dunia yang berubah, antara lain: Polarisasi masyarakat global ke dalam negara-negara inovator teknologi, negaranegara adaptor teknologi, dan negara-negara yang terkucilkan dari kemajuan teknologi. Bidang-bidang yang menjadi generator utama perubahan dunia, yaitu teknologi informasi, teknologi biologi, dan teknologi nano. Tuntutan tata ekonomi baru terhadap SDM yang memiliki kemampuan man of purpose, man of imagination, man of creativity, dan man of innovation.


Industri berbasis pengetahuan memerlukan tenaga kerja yang amat mahir sebagai knowledge workers. Tuntutan ciri SDM masa depan ini perlu dipenuhi sistem pendidikan, khususnya melalui kurikulum yang dikembangkan dan diimplementasi Konstruksi SDM yang berkualitas ditandai oleh orientasi nilai positif universal akan memudahkan personal dan kolektifuntuk ikut ambil bagian dan akhirnya muncul sebagai pemenang dalam kompetisi secara multinasional.


Dunia Industri dan kapital setelah masuk pada perkembangan posmodern berbasis teknologi , kecerdasan buatan, kemandirian, inovatif, kreatif, aktif, dan nilai-nilai positif lainnya. Oleh karena itu, penguasaan teknologi tidak bisa ditunda lagi. Hal yang sangat penting yang perlu dilakukan adalah tidak perlu menunggu instruksi dari pemerintah, tetapi atas inisiatif institusi pendidikan untuk menggerakkan dinamika perubahan dalam rangka mengkonstruksi SDM yang unggul yang memiliki nilai positif, memiliki sikap positif, dan perilaku positif pula.


Peran pengajar (dosen) sangat strategis untuk memberikan arah dan pendampingan peserta didik dalam pemetaan, perencanaan, dan pelaksanaannya. Berkaitan dengan hal itu, dosen dituntut untuk memiliki tiga kemampuan dalam mengkonstruksi nilai positif. Pertama, kemampuan untuk mengetahui pola-pola perubahan dan kecenderungan yang sedang berjalan. Kedua, kemampuan untuk menyusun gambaran tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang sedang berjalan. Ketiga, kemampuan untuk menyusun program-program penyesuaian diri yang akan ditempuhnya dalam jangka waktu tertentu katakanlah jangka lima tahun.


Posisi Kompetitif Keunggulan ini terlihat pada eksistensi institusi pendidikan yang diterima, dihargai dan dibutuhkan masyarakat. Sifat kompetitif ini terletak pada produknya (misal : kualitas lulusan) yang memuaskan masyarakat yang dilayani. Oleh karena itu SDM yang dimiliki terus dikembangkan dan ditingkatkan pengetahuan, ketrampilan, keahlian dan sikapnya terhadap pekerjaannya sebagai pemberi pelayanan kepada peserta didik. Bersamaan dengan itu dikembangkan pula kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi pada masa sekarang dan untuk mengantisipasi masalah – masalah yang timbul sebagai pengaruh globalisasi di masa yang akan datang.


Konsep Pendidikan masa depan didasarkan pada pemahaman bahwa pendidikan merupakan sarana yang sangat strategis dalam melestarikan sistem nilai yang berkembang dalam kehidupan. Kondisi tersebut tidak dapat dielakkan bahwa dalam proses pendidikan tidak hanya pengetahuan dan pemahaman peserta didik yang perlu dibentuk, namun sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik perlu mendapat perhatian yang serius, mengingat perkembangan komunikasi, informasi dan kehadiran media cetak maupun elektronik tidak selalu membawa pengaruh positif bagi peserta didik.


Tugas pendidik dalam konteks ini membantu mengkondisikan pesera didik pada sikap, perilaku atau kepribadian yang benar, agar mampu menjadi agents of modernization bagi dirinya sendiri, lingkungannya, masyarakat dan siapa saja yang dijumpai tanpa harus membedakan suku, agama, ras dan golongan. Pendidikan diarahkan pada upaya memanusiakan manusia, atau membantu proses hominisasi dan humanisasi, maksudnya pelaksanaan dan proses pendidikan harus mampu membantu peserta didik agar menjadi manusia yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi (bermoral, berwatak, bertanggungjawab dan bersosialitas).


Para peserta didik dibantu untuk hidup berdasarkan pada nilai moral yang benar, mempunyai watak yang baik dan bertanggungjawab terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan. Dalam konteks inilah pendidikan budi pekerti sangat diperlukan dalam kehidupan peserta didik di era revolusi industri 4.0 ini. Pendidikan dilaksanakan secara terencana, terprogram dan berkesinambungan membantu peserta didik mengembangkan kemampuannya secara optimal, baik aspek kognitif, aspek afektif maupun aspek psikomotorik.


Aspek kognitif yang berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

Aspek afektif berkenaan dengan sifat yang terdiri dari lima aspek yakni: penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Aspek psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek, yaitu: gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.


Pengembangan potensi peserta didik merupakan proses yang disengaja dan sistematis dalam membiasakan/mengkondisikan peserta didik agar memiliki kecakapan dan keterampilan hidup. Kecakapan dan keterampilan yang dimaksud berarti luas, baik kecakapan personal (personal skill) yang mencakup; kecakapan mengenali diri sendiri (self awareness) dan kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), maupun kecakapan vokasional (vocational skill). Kegiatan pendidikan pada tahap melatih lebih mengarah pada konsep pengembangan kemampuan motorik peserta didik.


Terkait dengan proses melatih ini, perlu dilakukan pembiasaan dan pengkondisian anak dalam berpikir secara kritis, strategis dan taktis dalam proses pembelajaran. Peserta dilatih memahami, merumuskan, memilih cara pemecahan dan memahami proses pemecahan “masalah”. Berangkat dari kondisi tersebut, maka budaya instant dalam pembelajaran yang selama ini dibudayakan harus ditinggalkan, menuju proses pemberdayaan seluruh unsur dalm sistem pembelajaran.


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi sangat menuntut hadirnya perubahan paradigma pendidikan yang berorientasi pada pasar dan kebutuhan hidup masyarakat. Sayling Wen dalam bukunya “future of education” menyebutkan beberapa pergeseran paradigma pendidikan, yang juga berpengaruh terhadap cara pandang dalam pengambilan keputusan pendidikan, yaitu antara lain:


1. Pendidikan yang berorientasi pada pengetahuan bergeser menjadi pengembangan ke segala potensi yang seimbang.

Pada pendidikan orientasi pendidikan lebih menekankan pada pemindahan informasi yang dimiliki kepada peserta didik (bersifat kognitif). Praktek pembelajaran yang berkembang di pendidikan kita dapat deskripsikan sebagai berikut: peran pengajar sangat dominan dalam proses pembelajaran, kesan yang muncul adalah pengajar (dosen) mengajar peserta didik diajar, dosen aktif peserta didik pasif, dosen pinter peserta didik minder, dosen berkuasa, peserta didik dikuasai.


Dalam kegiatannya pendidik berusaha memola anak didik sesuai dengan kehendaknya. Program pembelajaran, materi, media, metode dan evaluasi yang diterapkan sepenuhnya disiapkan oleh pendidik. Dari keseragaman pembelajaran bersama yang sentralistik menjadi keberagaman yang terdesentralisasi dan terindividulisasikan. Hal ini seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dimana informasi dapat diakses secara mudah melalui berbagai macam media pembelajaran secara mandiri, misalnya; internet, multimedia pembelajaran, dsb.


2. Pembelajaran dengan model penjenjangan yang terbatas menjadi pembelajaran seumur hidup.


Belajar tidak hanya berakhir terbatas pada jenjang pendidikan tinggi, namun belajar dapat dilakukan sepanjang hayat, yang tidak terbatas pada tempat, usia, waktu, dan fasilitas. Dari pengakuan gelar kearah pengakuan kekuatan-kekuatan nyata (profesionalisme). Dilihat dari kualitas pendidik, secara kuantitatif jenjang pendidikan yang dimiliki dosen cukup menjanjikan, Sebagian besar sarjana strata 2 (s2). Hal ini ditunjukkan dengan gelar yang dimiliki pada pendidik, namun secara kualitas, sungguh memprihatinkan.


Secara kualitatif bisa dilihat, motivasi belajar dan motivasi berprestasi dalam meningkatkan profesionalisme di kalangan pendidik sangat rendah. Sebagian besar dosen malas belajar, malas mencari pengetahuan baru, dan berkarya (baca: tekun membaca, mengikuti pelatihan, menulis karya ilmiah). Pola pikir yang berkembang pada pendidik saat ini lebih loyal pada integrasi gaji dari pada loyalitas profesional, dengan nafsu mengejar pangkat, golongan, posisi dan tunjangan.


Di antara pendidik ada yang melanjutkan kuliahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (S3), bukan untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi, namun demi “gengsi, posisi dan gaji”, kesempatan kuliah yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi secara mandiri mulai menghilang. Kondisi demikian sungguh memprihatinkan.


Namun seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan persaingan global, kompetensi dan profesionalisme akan menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang dalam memenangkan persaingan hidup. Prestasi kerja menempatkan seseorang pada posisi kerja yang sesungguhnya (“saat ini muncul image posisi kerja adalah uang”).


3. Pembelajaran yang berbasis pada pencapaian target kurikulum bergeser menjadi pembelajaran yang berbasis pada kompetensi dan produksi.


Pencapaian target kurikulum bukan satu-satunya indikator keberhasilan proses pendidikan, keberhasil pendidikan hendaknya di lihat dari konteks, input, proses, output dan outcomes, sehingga keberhasilan pendidikan dapat dimaknai secara komprehensif. Masih banyak institusi pendidikan kita yang masih menekankan pada pencapaian target kurikulum, contoh dilapangan: kita lihat sistem pembelajaran yang diterapkan membatasi gerak peserta didik dan keangkuhan dosen yang sangat kokoh di depan kelas. Peserta didik mulai dipola sekehendak dosenya yang dengan dalih agar sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan kampus. peserta didik yang seharusnya bisa berkreasi dan lebih bersemangat dalam belajar mulai menghilang, yang muncul belajar tidak menyenangkan dan kurang semangat.


Kondisi ini wajar, karena beban mata kuliah yang dipersyaratkan dalam kurikulum yang harus ditanggung peserta didik begitu berat, belum lagi masih banyaknya tugas matakuliah yang sebagian besar bersifat menghafal (mengkhayal) hal-hal yang terpisah dari kemampuan dan tuntutan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sejak mengijakan kaki di kampus para peserta didik telah dikondisikan dengan pencapaian target kuantitif yang sangat berat.


Untuk mengurangi jumlah pengkhayal dalam pendidikan, sebaiknya Proses pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan kontektual. Untuk membekali peserta didik dengan kompetensi (keterampilan dan keahlian) yang dibutuhkan di masa kini dan mendatang, diperlukan strategi pengembangan pendidikan, antara lain:


  1. Mengedepankan model perencanaan pendidikan (partisipatif) yang berdasarkan pada need assessment dan karakteristik masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pendidikan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi.

  2. Peran pemerintah bukan sebagai penggerak, penentu dan penguasa dalam pendidikan, namun pemerintah hendaknya berperan sebagai katalisator, fasilitator dan pemberdaya masyarakat.

  3. Penguatan fokus pendidikan, yaitu fokus pendidikan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, kebutuhan stakeholders, kebutuhan pasar dan tuntutan dunia kerja.

  4. Pemanfaatan sumber luar (out sourcing), memanfaatkan berbagai potensi sumber daya (belajar) yang ada, lembaga-lembaga pendidikan yang ada, pranata-pranata kemasyarakatan, perusahaan/industri, dan lembaga lain yang sangat peduli pada pendidikan.

  5. Memperkuat kolaborasi dan jaringan kemitraan dengan berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah mapun non pemerintah, bahkan baik dari lembaga di dalam negeri maupun dari luar negeri.

  6. Menciptakan soft image pada masyarakat sebagai masyarakat yang gemar belajar, sebagai masyarakat belajar seumur hidup.

  7. Pemanfaatan teknologi, yaitu: Institusi pendidikan dapat memanfaatkan teknologi dalam mengembangkan potensi diri dan lingkungannya (misal; penggunaan internet, multi media pembelajaran, sistem informasi terpadu, dsb)


PENUTUP


Kita menyadari sepenuhnya bahwa pendidikan merupakan agenda penting dan strategis, bukan saja untuk meningkatkan kualitas bangsa melainkan juga untuk mendorong kemajuan seluruh masyarakat, karena itu seluruh pemangku kepentingan harus mempunyai komitmen bersama untuk membangun pendidikan, terutama ketika didasari bahwa pendidikan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kemajuan bangsa.


Membangun pendidikan menjadi lebih penting lagi terutama dalam menyongsong era revolusi industri 4.0 yang menuntut daya saing tinggi. Karena itu, menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, melalui upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu hal yang mutlak.

 
 
 

Comments


  • Facebook - White Circle
  • Pinterest - White Circle
  • Instagram - White Circle

LSP3I REGION V SULAWESI PUSAT MAKASSAR

bottom of page