top of page

Ancaman Disinformasi, Misinformasi, Pseudosains, Obscurantisme, dan Teori Konspirasi Covid19

  • Gambar penulis: Yusrin Ahmad Tosepu
    Yusrin Ahmad Tosepu
  • 3 Agu 2021
  • 17 menit membaca


Kita semua paham betapa melelahkannya hidup di tengah kondisi pandemi ini. Pemerintah dan masyarakat berjuang untuk menemukan strategi yang efektif untuk mengekang penyebaran virus. Namun, upaya menjadi semakin berat karena menghadapi pemberitaan dan penyebaran informasi yang tidak benar, dan informasi yang tidak diverifikasi yang beredar di media sosial.


Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat di masa pandemik adalah disinformasi dan misinformasi covid19 yang beredar di masyarakat. Disinformasi adalah informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk mempengaruhi opini publik dan menutupi kebenaran. Sedangkan Misinformasi adalah informasi yang salah dan tersebar tak sengaja tanpa disertai niat buruk.


Maraknya disinformasi dan misinformasi seputar covid19 berdampak pada sulitnya masyarakat untuk menyaring antara informasi yang sesuai fakta atau informasi palsu alias hoaks. Disinformasi dan misinformasi seputar covid19 berpotensi menimbulkan kebingungan publik dan menyebabkan ketidakpercayaan pada pihak-pihak tertentu. Banyaknya komando, informasi yang datang silih berganti, dan ketidakpastian kondisi pada situasi pandemi COVID-19 menjadi ladang subur bagi para penyebar disinformasi.


Berita yang salah, informasi yang tidak diverifikasi yang beredar di media sosial telah menyebabkan ketidakpastian dan kecemasan, sekaligus jadi rintangan penanganan efektif pandemi di Indonesia. Informasi salah yang beredar tersebut berkisar tentang teori konspirasi covid19, klaim obat dan produk herbal, serta berbagai mitos yang dapat menangkal ataupun menyembuhkan pasien Covid-19.


Banyak Informasi yang beredar di media sosial yang menyarankan masyarakat untuk mengonsumsi obat obatan tertentu, suplemen makanan dan minuman herbal dan rempah-rempah untuk meningkatkan kekebalan mereka. Informasi tersebut tersebut dapat mendorong orang untuk mencoba terapi yang belum teruji tersebut.


Klaim tersebut dianggap menyesatkan, sebab tak disertai bukti ilmiah. Terkait ini, informasi yang salah tentang kesehatan lebih umum dan beragam, diikuti oleh informasi yang salah terkait agama. Sebagian besar informasi kesehatan yang salah berkaitan dengan pandemi dan juga itu, ketika negara ini juga berada di tengah-tengah upaya vaksinasi besar-besaran.


Konten media sosial telah meningkat pesat seputar pandemic covid 19 sejak pemerintah memberlakukan PSBB sampai kebijakan PPKM sekarang ini untuk mengendalikan penyebaran virus. Media social dan Aplikasi WhatsApp menjadi platform di mana sebagian besar informasi yang salah tersebar.


Dengan kasus COVID-19 yang melonjak di Indonesia sekarang ini, banyak masyarakat yang semakin mudah tertipu dan menjadi mangsa gelombang peningkatan berita yang menyesatkan dan palsu. Desas-desus tentang efek buruk vaksin juga memengaruhi upaya vaksinasi massal yang dilakukan pemerintah.


Selain itu, ada berita, informasi tentang klaim sepihak tentang penggunaan suatu obat yang bisa menangkal dan mengobati Covid-19. Di tengah ketidakpastian terkait keampuhan suatu obat itulah, para produsen dan penjual menyesatkan publik dengan memanfaatkan ketidaktahuan dan ketakutan masyarakat terhadap Covid-19 agar produknya laku. Para produsen atau penjual obat herbal tersebut memberikan klaim sepihak bahwa obatnya bisa menangkal dan mengobati Covid-19.


Klaim kampanye obat-obatan modern maupun obat tradisional seperti jamu penangkal virus corona Covid-19 bertebaran di masyarakat luas. Klaim obat-obatan yang tersebar secara luas di masyarakat membuat orang percaya bahwa obat tersebut ampuh mengatasi Covid-19. Obat-obatan tersebut dinilai dapat membahayakan masyarakat karena pemakaian obat tidak bisa sembarang tanpa resep dokter.


Penggunaan yang tidak sesuai resep dokter bisa menimbulkan reaksi efek samping yang parah. Dilain sisi, hal ini dapat berakibat pada kelangkaan obat, kenaikan harga obat, hingga penyalahgunaan obat-obatan, termasuk penggunaan yang tidak sesuai resep dokter. Beberapa kasus klaim obat-obatan yang terjadi misalnya Hidroxychloroquine, dexamethasone, hingga sejumlah jamu yang diklaim bisa mengatasi Covid-19.


Selain Disinformasi dan Misinformasi, juga marak Obskurantisme, Pseudo-sains dan teori konspirasi tentang covid19. Obskurantisme adalah tindakan yang dengan sengaja menyajikan informasi dengan cara yang berkesan kabur dan sukar dimengerti dengan tujuan agar tidak ada yang mencoba bertanya atau memahami lebih lanjut. Istilah ini juga dapat mengacu kepada pembatasan pengetahuan secara sengaja agar pengetahuan tersebut tidak menyebar.


Maraknya pseudosains tentang covid19 karena masih adanya ketidakpastian sains tentang pemahaman masyarakat terhadap karakteristik virus SARS-CoV-2, penyakit dan komplikasi yang ditimbulkannya, hingga terapi preventif kuratif yang tepat untuk mengeradikasi Covid-19.


Istilah pseudosains, pertama kali muncul pada 1800-an, kombinasi dari bahasa Yunani, pseudo, yang berarti semu atau palsu, dan bahasa Latin scientia, yang berarti pengetahuan. Pseudosains memiliki konotasi negatif karena sering menunjukkan objek yang mendapat label ini digambarkan sebagai suatu yang tak akurat, tidak valid, dan berujung tidak dipercayanya sebagai ilmu pengetahuan.


Pseudosains juga dapat didefinisikan kumpulan kepercayaan dan praktik yang salah tanpa dilandasi alur metode ilmiah yang benar (Cover JA, 1998). Filsuf Karl Popper mengklasifikasi pseudosains sebagai demarkasi good science dan bad science.


Secara umum, Pseudoscience adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada suatu bidang yang menyerupai ilmu pengetahuan namun sebenarnya bukan merupakan ilmu pengetahuan. Sesuatu yang menyerupai ilmu pengetahuan ini tidak valid dan memiliki banyak kekurangan, tidak rasional dan cenderung dogmatis. Dengan kata lain ilmu-palsu.


Pseudosains bisa juga dikatakan kumpulan pandangan yang berada di luar lingkup ilmiah. seni, nilai, kreatifitas, spiritualitas, sugesti, dan bagi banyak orang, merupakan aspek yang sangat penting dari eksistensi manusia. Subyek non-sains biasanya mudah dipisahkan dari sains.


Pseudo-sains muncul ketika ada yang mengklaim bahwa telah dibuktikan secara ilmiah, Padahal sebenarnya tidak. Keyakinan dan kepercayaan kadang-kadang menjadi pseudo-sains ketika ada orang yang berusaha mempopulerkan suatu keyakinan atau kepercayaan sebagai sesuatu fakta yang sudah terbukti secara ilmiah . Argumentasi seperti ini seringkali muncul ketika sains belum dapat menemukan jawabannya.


Karakteristik kunci dari pseudosains adalah bahwa hal itu tidak sesuai dengan metode ilmiah. Ini berarti bahwa klaim ilmu ini terhadap suatu hal tidak dapat diuji, dan tidak mengikuti urutan logis. Banyak konsep-konsep ilmiah tidak dapat diuji dengan peralatan yang ada. Pseudosains tidak memiliki dukungan ilmiah, dan tidak dapat diuji.


Jika anda sedang browsing di internet, anda akan menemukan beberapa berita, informasi, atau pun artikel tentang covid19 yang telah beredar luas yang memuat suatu uraian yang terkesan ilmiah tetapi jauh dari kata ilmiah. Misal, klaim obat dan produk herbal, serta berbagai mitos yang dapat menangkal ataupun menyembuhkan pasien Covid-19. Klaim tersebut dianggap menyesatkan, sebab tak disertai bukti ilmiah.


Melansir Healthline, ada beberapa klaim daftar obat-obatan yang dapat menangkal ataupun menyembuhkan pasien Covid-19. tersebut, yaitu: Pertama. Remdesivir. Menurut data Mayo Clinic, obat ini sebenarnya digunakan untuk mengatasi virus ebola. Kemudian, riset menunjukkan remdesivir dapat membantu mempercepat pemulihan pasien COVID-19.


Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengklaim obat ini tidak sepenuhnya aman untuk mengatasi pasien Covid-19 karena bisa menimbulkan peningkatan kadar enzim hati yang memicu kerusakan hati. FDA hanya mengizinkan rumah sakit untuk memberikan obat antivirus ini kepada pasien Covid-19 dengan gejala yang parah.


Kedua. Chloroquine dan hydroxychloroquine. Obat ini sebenarnya digunakan untuk mengobati malaria dan beberapa jenis gangguan autoimun. Obat ini sebenarnya dianggap kurang efektif untuk mengatasi pasien Covid-19 karena bukti ilmiah masih terbatas. Obat ini juga bisa menimbulkan menimbulkan berbagai efek samping, seperti gejala gastrointestinal dan risiko interaksi negatif dengan resep lain yang mungkin digunakan oleh pasien. Risiko paling fatal dari penggunaan obat ini adalah gangguan irama jantung yang bisa menghambat aliran oksigen ke seluruh tubuh.


Ketiga. Ciclesonide (Alvesco). Sampai sekarang, belum ada riset ilmiah yang cukup membuktikan obat ini efektif untuk pasien Covid-19. Bahkan, obat untuk pasien asma ini bisa menimbulkan efek samping seperti iritasi mulut, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, gatal atau ruam kulit, nyeri sendi, dan sakit kepala.


Keempat. Acetazolamide. Di beberapa negara, obat ini hanya dapat boleh digunakan untuk pengobatan hewan. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi glaukoma, mengendalikan kejang, atau penyakit ketinggian. Bagi beberapa orang, obat ini bisa menimbulkan efek samping berbahaya seperti reaksi alergi, mati rasa, otot melemah, kesulitan bergerak, dan sensasi dering di telinga.

Kelima. N-acetylcysteine. Obat ini biasanya dipakai untuk mengatasi penyakit pernapasan. Namun, belum ada riset ilmiah yang membuktikan obat ini efektif untuk pasien Covid-19. Obat ini juga memiliki efek samping seperti menyebabkan sesak nafas, pembengkakan di area wajah, dan reaksi alergi.


Keenam. Ivermectin. Obat ini digunakan untuk mengobati infeksi parasit sehinga dianggap ampuh untuk mengatasi Covid-19. Tapi, hingga saat ini tidak ada uji klinis yang menunjukkan bahwa obat ini efektif untuk pasien Covid-19. Obat ini juga bisa menimbulkan reaksi alergi, iritasi kulit, nyeri sendi, pembengkakan, dan demam.


Ketujuh. Cetylpyridinium chloride. Obat ini biasanya digunakan untuk obat kumur dan produk-produk kesehatan gigi untuk membunuh kuman. Namun, belum ada riset membuktikan obat ini bisa mengatasi atau mencegah Covid-19.


Kedelapan. Favipiravir. Meskipun obat antivirus ini disetujui di Cina dan Jepang untuk mengobati influenza, sejauh ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa obat tersebut efektif mengatasi Covid-19. Hingga kini masih dilakukan uji klinis untuk mengulik efektivitas dan efek samping dari obat ini.


Kesembilan. Guaifenesin (Mucinex). Beberapa dokter mungkin merekomendasikan obat batuk yang dijual bebas ini untuk membantu meredakan gejala ringan COVID-19. Namun, obat ini tidak bisa digunakan untuk melawan virus penyebabnya. Kesepuluh. Antibiotik. Antibiotik bekerja melawan infeksi bakteri, bukan infeksi virus seperti COVID-19. Tidak ada uji klinis yang membuktikan obat ini bisa mencegah Covid-19.


Selain obat-obatan tersebut diatas, beberapa informasi menyesatkan beredar luas di masyarakat. Misalnya, klaim pakai minyak kayu putih dan Konsumsi Alkohol dapat menyembuhkan pasien Covid-19.


Sejak pandemi COVID-19 dimulai, penggunaan alkohol semakin meningkat sebagai bahan dasar yang harus ada baik pada cairan pembersih tangan maupun disinfektan. Kandungan tersebut menjadi penting karena mampu membunuh bakteri dan virus, sehingga bisa membantu mencegah penularan virus corona.


Namun, klaim bahwa meminum alkohol bisa melindungi tubuh dari SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, tidak benar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Eropa, alkohol tidak bisa melindungi dari infeksi atau penyakit yang berkaitan dengan COVID-19. Faktanya, konsumsi alkohol justru meningkatkan kemungkinan berkembangnya penyakit parah akibat COVID-19.


Konsentrasi alkohol yang tinggi, seperti 60-90 persen memang bisa membunuh beberapa bentuk bakteri dan virus. Namun, manfaat alkohol tersebut hanya berlaku pada penggunaan di kulit. Minum alkohol bisa berdampak buruk pada sistem kekebalan tubuh.


Menurut WHO, alkohol tidak berperan dalam mendukung sistem kekebalan untuk melawan infeksi virus. Hal ini berlaku untuk konsentrasi alkohol apa pun. Bahkan penggunaan alkohol yang berlebihan mungkin bisa merusak sistem kekebalan tubuh. Selain itu, alkohol dapat meningkatkan risiko penyakit menular tertentu, seperti pneumonia dan tuberkulosis.


Menurut artikel tahun 2015 di jurnal Alcohol Research, alkohol bisa mencegah sel-sel kekebalan untuk bekerja dengan baik, sehingga mengurangi kemampuan sistem kekebalan untuk melawan infeksi. Alkohol juga bisa menyebabkan peradangan yang dapat melemahkan sistem kekebalan. Sistem kekebalan tubuh yang lemah juga bisa menyebabkan kamu berisiko mengembangkan penyakit yang parah bila terkena COVID-19.


Orang yang mengembangkan penyakit parah akibat COVID-19 berisiko mengalami sindrom gangguan pernapasan akut atau acute respiratory distress syndrome (ARDS). Sindrom tersebut terjadi ketika cairan mengisi kantung udara di paru-paru, sehingga mengurangi suplai oksigen ke tubuh. ARDS bisa berakibat fatal. Selain itu, konsumsi alkohol juga bisa bisa mengganggu keseimbangan neurotransmitter yang menyebabkan otak tidak bisa berfungsi dengan baik. atau memperburuk masalah kesehatan mental yang ada.


Mitos lainnya yang beredar luas dimasyarakat adalah meminum air panas 6 kali sehari, meminum susu panas dan teh panas 4 kali sehari, serta rajin menghirup uap panas bisa menumpas virus vorona. WHO melalui situs resminya telah menegaskan bahwa tidak ada hasil penelitian yang menemukan bahwa meminum minuman panas dan menghirup uap panas dapat membunuh virus Corona.


Hasil penelitian oleh sekelompok peneliti dari Universitas St. Thomas, Minnesota, Amerika Serikat menyatakan bahwa meskipun temperatur tinggi dapat melemahkan partikel virus Corona yang berada di permukaan suatu benda, metode tersebut tidak dapat memberikan hasil yang efektif ketika virus Corona telah masuk ke dalam tubuh manusia.


Adapula klaim yang menyebut bahwa asap dari bakaran batok kelapa dapat dijadikan sebagai obat Covid-19. Disebutkan juga bahwa asap batok kelapa yang bisa dijadikan obat Covid-19 adalah yang sudah dikondensasi. Klaim tersebut disampaikan lewat sebuah unggahan di media social Facebook.


Unggahan tersebut disertai dengan video berita yang menayangkan proses pembuatan batok kelapa menjadi obat Covid-19. Dalam unggahan tersebut muncul kalimat yang menyatakan bahwa asap batok kelapa bisa jadi obat Covid-19 seperti berikut: "Apresiasi Anak Negeri" "Asap Batok Kelapa jadi Obat Covid-19."


Selain batok kelapa, ada juga rumor lainnya yang mendorong konsumsi bawang putih, kayu manis, dan akar manis, sebagai tindakan pencegahan atau pengobatan COVID-19. Ada juga rumor lainnya yang tengah beredar di media sosial, mengatakan bahwa jambu Kristal, air rebusan belimbing wuluh. Disebutkan buah-buahan ini mampu sebagai anti virus corona Covid19.


Lebih jauh, tersebar juga rumor di media sosial, mengatakan bahwa Vaksin Covid-19 Tidak Kebal Menghadapi Virus. Padahal klaim yang menyebut vaksin tidak kebal melawan virus dan masih bisa menularkan virus tidak benar. Faktanya, vaksin butuh waktu untuk membentuk antibodi agar seseorang tidak terinfeksi atau dampak yang serius dari infeksi dari sebuah penyakit. Begitupula rumor tentang test Swab bisa negatif jika mencuci hidung dgn cairan infus NaCL. Padahal narasi yang disertakan dalam video aslinya tidak ditemukan klaim bahwa mencuci hidung dengan cairan infus agar hasil tes swab negatif.


Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa klaim tentang obat obatan ataupun beberapa informasi yang terkait pengobatan untuk mengurangi gejala atau komplikasi karena infeksi corona adalah klaim yang tidak benar. Pasalnya Tidak ada bukti ilmiah untuk mendukung klaim absurd tersebut.


Hingga saat ini belum terdapat obat maupun vaksin yang bisa digunakan untuk mengatasi pandemi Covid-19. Obat yang diberikan kepada penderita covid19 merupakan obat untuk mengurangi gejala atau komplikasi karena infeksi corona. Sedangkan obat-obatan tradisional umumnya bersifat antioksidan dan juga imunomodulator atau untuk meningkatkan imunitas tubuh. Jadi, belum ada obat yang benar-benar bisa langsung menargetkan virus penyebab Covid-19 tersebut.


Melansir dari laman covid-19.go.id, dijelaskan bahwa sampai saat ini, belum ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati penyakit yang disebabkan virus corona baru (COVID-19). Bahkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tidak menyetujui penggunaan obat-obatan tersebut diatas karena dianggap tidak aman dan efektif untuk mengobati atau mencegah Covid-19.


Dari laman covid-19.go.id menjelaskan bahwa klaim yang menyatakan bahwa ada pasien yang sembuh karena meminum atau mengonsumsi sesuatu, hal itu terjadi semata-mata karena daya tahan tubuh pasien bukan karena obat-obatan ataupun herbal yang dikonsumsi. Obat-obat herbal yang beredar di masyarakat hanya obat-obatan yang digunakan untuk meredakan, bukan sebagai obat yang secara langsung dapat menyembuhkan. Mereka yang positif Covid-19 harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala, dan mereka yang sakit serius harus dibawa ke rumah sakit.


Selain Pseudo-sains, virus corona juga diklaim sebagai teori konspirasi atau persekongkolan yang sengaja diciptakan untuk kepentingan politik dan bisnis secara global. Banyak teori konspirasi yang mengeklaim bahwa covid19 adalah peristiwa yang didominasi oleh para konspirator belakang layar yang memanipulasi kejadian-kejadiannya. Dengan kata lain menjadikan sesuatu sebagai alternatif demi mencapai tujuan yang telah dirancang.


Jika anda sedang browsing di internet, anda akan menemukan beberapa informasi terkait teori konspirasi virus corona. Misal muncul spekulasi teori bahwa penyebab pandemi ini terjadi bukan dari virus SARS-CoV-2 alami melainkan senjata biologis dari laboratorium di China yang bocor.


Virus tersebut dibuat sebagai senjata biologis atau bioweapon. Namun, sebuah penelitian tentang pandemi Covid-19 yang diterbitkan di jurnal Nature Medicine pada 17 Maret 2020, menunjukkan bukti spesifik yang menyangkal teori konspirasi yang merebak, jika virus corona, SARS-CoV-2 tidak direkayasa di laboratorium di China. Melansir Science Daily, analisis data sekuens genom dari virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 menunjukkan virus tersebut adalah produk evolusi alami dan bukan rekayasa genetika di laboratorium.


Kemudian, muncul teori konspirasi tentang teknologi 5G yang dikabarkan membantu menstransmisikan (menularkan) virus corona pada manusia. Untuk diketahui, jaringan 5G adalah jaringan ponsel yang di bawa oleh gelombang radio. Namun, teori konspirasi ini menyebutkan bahwa jaringan 5G bertanggung jawab terhadap penyebaran virus corona. Padahal, para ilmuwan telah mengatakan dengan tegas bahwa hubungan antara Covid-19 dan jaringan 5G secara biologis tidak mungkin terjadi.


Teori konspirasi berikutnya yang tidak kalah menghebohkan masyarakat Indonesia adalah program vaksinasi yang bertujuan untuk menanamkan microchip rancangan Bill Gates. Hal itu dilatarbelakangi oleh sebuah pidatonya pada 2015 silam yang memperingatkan adanya virus di masa depan. Dari pidato itu, muncul tudingan teori konspirasi. Beberapa menuduhnya sebagai pemimpin kelas elit global, sementara yang lain percaya bahwa dia memimpin upaya untuk mengurangi populasi dunia.


Selain itu, teori ini dikaitkan dengan fakta bahwa Yayasan Bill dan Melinda Gates mendanai studi yang dilakukan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) tahun 2019 dan melihat kemungkinan menyimpan riwayat vaksinasi pasien dalam pola warna.


Teori konspirasi yang bermunculan juga memberikan banyak peluang bagi pemerintah di sejumlah negara. Seperti dilansir dari New York Times, mengantisipasi serangan politik dengan memanfaatkan kondisi pandemi virus corona ini, tidak sedikit pemerintah yang memperdagangkan klaim palsu mereka sendiri. Adapula Klaim Aliansi Dokter Dunia, ada tujuh dokter yang mewakili Jerman, Belanda, Swedia, Irlandia, dan Inggris itu mengklaim bahwa virus corona SARS-CoV-2 adalah virus flu biasa dan tidak ada pandemi Covid-19.


Mereka pun mengatakan, lockdown di seluruh dunia yang bertujuan untuk mencegah penyebaran virus corona harus diakhiri. Di situs web mereka, aliansi tersebut dideskripsikan sebagai kelompok profesional kesehatan nirlaba independen yang bersatu untuk mengakhiri lockdown. Pernyataan dari Aliansi Dokter Dunia ini dibantah oleh banyak ilmuwan dan peneliti dunia lainnya. Dengan tegas para ilmuwan mengatakan bahwa penyebab pandemi Covid-19 saat ini adalah virus corona baru SARS-CoV-2, dan ini bukan jenis virus influenza.


Teori konspirasi corona juga datang dari seorang ilmuwan bernama dr Judy Mikovits. Nama Judy Mikovits ramai diperbincangkan setelah dia mengunggah video bernuansa film dokumenter berjudul Plandemic di YouTube, awal Mei lalu. dr Judy Mikovits menegaskan bahwa pandemi corona merupakan sesuatu yang dibuat perusahaan farmasi besar. Ada beberapa poin yang dikeluarkan Judy Mikovits dalam video tersebut yaitu. Bill Gates dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dituduh sebagai dalang penyebaran Covid-19 Masker dapat membuat orang lebih sakit dan membahayakan


Apa yang harus kita lakukan untuk Melawan Ancaman Pseudosains, Obscurantisme, Disinformasi, Misinformasi, dan Teori Konspirasi Covid 19?


1. Menyemai Scientific Temper (Perangai Ilmiah) dalam Pencarian Kebenaran


Sains sangat diperlukan pada zaman sekarang ini untuk membantu menemukan kebenaran yang jarang terlihat dan banyak yang hilang dalam sebuah kebingungan. Diperlukan sebuah dedikasi dan keberanian untuk menanamkan sikap saintis yang senantiasa berpikir kritis serta terbuka untuk menghilangkan segala tipu muslihat yang para penipu ciptakan terlebih di masa pandemic covid 19 sekarang ini.


Terjadi di kehidupan masyarakat masa pandemic covid19 sekarang ini, tidak berfungsinya ilmu sains atau ilmu pengetahuan sebagai dasar atau pijakan seseorang untuk berpikir. Terkadang disfungsional ini dipakai untuk memberikan pendapat mengenai suatu hal yang terkesan absurd, bias atau tanpa bukti ilmiah.


Paradigma ilmu pengetahuan (sains) mendesak untuk dikampanyekan, oleh kita yang memiliki nalar dan akal sehat, sebagaimana produk atau politik dikampanyekan. Bukan untuk tujuan bisnis atau kekuasaan, tapi untuk membangun budaya nalar, menyemai scientific temper (perangai ilmiah) sebagai gaya hidup.


Sains penting, karena, mengutip fisikawan Richard Feynman: ā€œmetode bagi manusia agar tidak mudah dibodohi; karena sejatinya manusia adalah makhluk yang paling gampang dibodohi.ā€ Khususnya saat ini, di masa pandemic covid19, ketika perdebatan atau tafsir tentang realitas mulai mengarah ke pemikiran anti-sains. Ketika pikiran tanpa-nalar memiliki platform yang sama dengan yang nalar.


Carl Sagan dalam bukunya ā€œThe Demon Haunted Worldā€, yang membahas perihal pseudosains yang bisa kita renungkan dan cermati. Sagan mewariskan sikap skeptisisme kepada para pembaca yang tampaknya menjadi hal yang hangat dan positif: alat yang digunakan untuk mengungkap keajaiban nyata dunia di sekitar kita, serta untuk menghilangkan delusi.


Carl sagan menulis didalam bukunya ini bahwa sains merupakan jawaban untuk menangkal segala sesuatu yang berhubungan dengan pseudosains. Karena sains memuat literatur-literatur ilmiah yang ditulis oleh para ilmuwan setelah melewati tahap yang tidak singkat.


Untuk menciptakan literatur harus ada peer review. Terdapat standar yang ketat untuk kejujuran dan akurasi. Dalam pseudosains, literatur-literatur yang ada tidak mengalami proses yang Panjang dimulai dari review sampai publikasi, hal ini membuat pernyataan yang ditujukan tidak terdapat adanya standar untuk mencapai peryataan yang valid. produk-produk ilmiah dapat direproduksi.


Segala eksperimen yang dilakukan harus dapat dijelaskan dengan tepat sehingga eksperimen tersebut dapat diulangi secara presisi. Pengulangan ini dilakukan dalam rangka perbaikan hasil atau penerapan dalam kasus atau peristiwa lainnya. Sedangkan dalam pseudosains, produk-produk psudo tidak dapat direproduksi atau diverifikasi.


Meskipun ada studi atau eksperimen, tetapi begitu samar-samar digambarkan. Studi atau eksperimen tersebut pun prosedurnya kurang jelas sehingga masyarakat umum tidak mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan dalam studi atau eksperimen atau bagaimana hal itu dilakukan dalam studi atau eksperimen.


Dalam sains, kegagalan dalam satu studi memang selalu dicari, karena teori-teori yang salah seringkali dapat membuat prediksi yang tepat meskipun itu karena faktor kebetulan. Dengan kegagalan ini akan tercipta teori yang benar. Ketika teori yang benar telah ditemukan prediksi yang dibuatkun tidak akan salah.


Melawan segala bentuk pseudosains adalah dengan sains itu sendiri (ilmu Pengetahuan). Gagasan maupun ide harus dilawan dengan gagasan atau ide yang sesuai dengan metodologi keilmuan dari berbagai aspek epistemologis, aksiologis, hingga ontologis.


Sains dibangun dari sumber-sumber fisis yang dapat dikaji ulang oleh orang lain dan semua yang bersifat sains bermula dari premis-premis empiris dan bebas dibuktikan oleh siapapun. Perhatikan saja, ketika seorang saintis memulai segala sesuatu, maka ia berangkat dari makna filosofis yang didasari norma-norma profesionalisme yang selalu digelutinya.


Seperti yang Carl Sagan tuliskan dalam bukunya, mengingatkan akan dua sikap yang perlu dirawat dan dilakukan dalam memahami sains, yakni berupa berpikir kritis dan bersikap skeptis. Lebih lanjut, ia juga menjelaskan akan hakikat dari sains itu sendiri. Sains bukan sebatas kumpulan data maupun fakta, melainkan ia adalah sebuah cara berpikir. Frasa ā€œcara berpikirā€ inilah yang kemudian harus ditekankan dan menjadi perhatian pada ruang-ruang diskursus pengetahuan.


Di luar itu, ketika ditarik pada periodesasi peradaban keilmuan, ada tiga masa yang telah berjalan, yakni zaman iman (faith age), zaman nalar (reason age), dan zaman tafsir (interpretation age). Dan pada saat ini peradaban berada pada zaman tafsir. Tidak salah ketika meminjam aforisma yang pernah diungkapkan oleh Friedrich Nietzsche—tak ada fakta, yang ada hanyalah interpretasi.


Mafhum, orang kemudian mudah melakukan penafsiran tanpa memperhatikan otoritas keilmuan yang ada. Dilema ini kemudian melahirkan jurang pemisah antara ilmuwan dan non ilmuwan, antara tirai ketakpahaman dan persoalan komunikasi.


Kita yang memiliki nalar dan akal sehat harus memberikan pemahaman atau menyampaikan manfaat dari sains itu sendiri ke berbagai media seperti radio, tv, surat kabar, internet, dan media lainnya supaya masyarakat sadar akan pentingnya sains. Pemahaman mendasar mengenai sains dan metodenya harus tersedia dengan seluas-luasnya.


Terlepas dari banyaknya kesempatan penyalahgunaan sains dapat membantu masyarakat keluar dari kemunduran pemikiran. Sains juga mengingatkan kita mengenai bahaya-bahaya yang diperkenalkan oleh teknologi. Sains mengajari kita tentang masalah-masalah terdalam terkait asal-usul, hakikat dan nasib spesies.


2. Menyaring Informasi di Dunia Maya


Selama pandemi ini, banyak berseleweran informasi seputar virus corona dan Covid-19 di media sosial maupun di aplikasi pesan seperti WhatsApp. Sehingga, diperlukan sejumlah strategi agar dapat menerima informasi-informasi itu dengan baik. Mungkin bisa dari orang-orang yang memang kita percaya atau memang kita pilih dari sumber-sumber yang memang bisa diverifikasi misalnya. Atau memang yang berulang kali atau datang dari beberapa sumber. Dengan demikian, informasi yang kita terima adalah informasi yang benar-benar akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.


Sebaiknya kita tidak langsung percaya terhadap unggahan atau konten yang ada di media sosial ataupun WhatsApp grup (WAG) sebelum menelisik kebenaran informasi tersebut dengan cara mengkonfirmasi sumber informasi tersebut. Caranya, cari sumber lain yang terpercaya, mungkin media, teman, keluarga yang lebih tahu, atau ke pakarnya langsung. Sehingga, jika muncul informasi yang tidak jelas di media sosial, maka kita dapat membandingkan dengan sumber informasi lain yang tersedia mengenai hal itu.


Bagi mereka yang sudah memiliki kesadaran untuk mencari informasi, sebaiknya mencarinya dari sumber-sumber yang berbasis ilmu pengetahuan. Karena banyak berita, informasi ataupun artikel yang beredar yang sifatnya testimoni yang tidak didukung dengan metodologi ilmiah atau sainsnya. Maka sebaiknya masyarakat cari berita, informasi aau artikel yang berbasis sains. Oleh karena itu, masyarakat awam harus cerdas dalam memilih informasi yang diterima dan mana informasi yang layak disebar.


Ada begitu banyak jenis disinformasi dan misinformasi. Berikut ini merupakan lima contoh yang sering kita temukan di kehidupan sehari-hari


1. Misleading title : Informasi yang dimuat dapat memiliki kebenaran, namun dimuat dengan judul yang menyesatkan

2. No proof: Informasi yang tidak memiliki bukti nyata

3. Totem pro parte: Pandangan satu orang dibuat seakan dibuat menjadi pandangan institusi tertentu

4. Narrative laundering: Penyebaran disinformasi dengan mencatut nama individu atau institusi

5. Drowning facts with emotion: Membawakan disinformasi dengan melibatkan sentuhan emosi supaya menarik atensi


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pennycook G. et al. terkait penyebaran misinformasi COVID-19 di sosial media, partisipan penelitian menunjukkan performa yang lebih buruk dalam membedakan berita yang faktual dan yang tidak saat ditanya apakah akan menyebarkan informasi terkait COVID-19 melalui sosial media mereka, dibandingkan ketika ditanya mengenai pendapat mereka tentang akurasi informasi tersebut.


Pada studi yang sama ditemukan bahwa reminder untuk memeriksa kebenaran informasi meningkatkan performa partisipan hingga dua kali lipat dalam menentukan informasi mana yang akan disebar dan yang tidak. Reminder berperan penting membiasakan masyarakat memeriksa kebenaran sebuah informasi terlebih dahulu sebelum mengolah dan menyebarkannya lagi

Faktor lain yang juga mempengaruhi kemampuan seseorang memilah informasi adalah latar belakang pendidikan. Orang dengan latar belakang bidang sains memiliki kecenderungan untuk bersifat lebih waspada terkait informasi yang diterima.


Berikut merupakan cara mencegah tersebarnya disinformasi atau misinformasi melalui empat langkah sederhana:

1. Baca dengan sikap skeptis (sikap waspada untuk menghindari bias)

2. Periksa akurasi

3. Jangan asumsi

4. Hati-hati dengan sumber anonym


Berikut ini merupakan langkah-langkah yang dapat membantu menanggulangi disinformasi dan misinformasi.

1. Pastikan tiga hal ini sebelum mempercayai dan/atau menyebarkan sebuah informasi!

a. Kebenaran sumber berita

b. Kebenaran gambar

c. Kesinambungan judul dan isi berita

2. Tetap tenang dan netral dalam menerima suatu berita

3. Mencari informasi dari situs-situs kredibel


Syarat-syarat sumber referensi yang bisa digunakan adalah:

1. Bila bersumber dari media massa, pilih media massa yang terdaftar di Dewan Pers atau pada artikelnya terdapat nama penulis, susunan redaksi, dan alamat korespondesni

2. Jurnal ilmiah seperti Google Scholar, Scopus, dan NEJM

3. Akun-akun media sosial terverifikasi seperti @kemenkes_ri, @kemenkominfo, dan @lawancovid19_id

4. Situs-situ milik pemerintah atau yang sudah terverifikasi seperti:

a. Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19

b. Kementerian Kesehatan RI Sub Direktorat Penyakit Infeksi Emerging

c. Situs pemantauan dari masing-masing pemerintah daerah (contoh: corona.jakarta.go.id)

d. EndCorona.id

e. Kementerian Kesehatan RI

f. Laporan isu hoaks Kementerian Komunikasi dan Informatika RI

g. World Health Organization (WHO)

5. Bandingkan dengan situs kredibel lainnya

6. Berhati-hati dalam membagikan berita ke orang lain

Pikirkan apakah beritanya benar, apakah beritanya bermanfaat untuk yang menerima, dan apakah informasi ini tidak membahayakan.

7. Laporkan informasi yang diketahui palsu dan membahayakan

a. Anda dapat melaporkan informasi palsu melalui salah satu dari cara ini

b. Kumpulkan bukti-bukti bahwa informasi tersebut palsu

c. Jelaskan letak kekeliruan informasi tersebut menggunakan referensi yang kredibel

d. Menggunakan fitur report di media sosial

e. Kirim ke alamat email aduankonten@mail.kominfo.go.id

f. Kirim ke laman turnbackhoax.id


3. Saling Mengedukasi Terkait COVID-19


Masih banyak kita temukan masyarakat yang menganggap sepele atau tidak percaya bahwa COVID-19 itu ada dan membahayakan. Masyarakat yang abai, tidak memperhatikan protokol kesehatan juga banyak dijumpai. Belum lagi masyarakat yang menolak vaksinasi maupun yang menolak dilakukan pemeriksaan kesehatan.


Di sisi lain, ada masyarakat yang panik dan khawatir secara berlebihan, menyebabkan panic buying, menggunakan APD tidak pada tempatnya, dan sebagainya. Dalam kondisi krisis seperti ini, setiap orang dapat menjadi agent of change yang dapat berperan di garis depan dengan memberikan edukasi yang sesuai bagi sesama masyarakat.


Hal-hal yang dapat dilakukan untuk saling membantu dalam penanggulangan COVID-19 adalah saling memberikan edukasi. Berbagai pendekatan diperlukan untuk dapat memberikan edukasi masyarakat, terutama dalam masalah new emerging disease dan pandemi seperti COVID-19.


Pemberian edukasi pada masyarakat terkait suatu masalah kesehatan merupakan suatu bentuk promosi kesehatan. Promosi kesehatan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan faktor kesehatan melalui pembelajaran diri, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar masyarakat dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumberdaya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. (Kemenkes RI, 2005).


Pemberian edukasi masyarakat perlu memerhatikan berbagai aspek penting di masyarakat dengan tujuan utama untuk perubahan perilaku. Cara pemberian edukasi pada masyarakat adalah dengan berbagi keilmuan saling terkait dalam, meliputi keterampilan komunikasi, dinamika kelompok, pengembangan dan pengorganisasian masyarakat, pendidikan dan pelatihan, pengembangan media, manajemen dan perencanaan, antropologi, sosiologi, dan psikologi.


Dalam memberikan edukasi, kita juga perlu memperhatikan berbagai faktor yang dapat memengaruhi perilaku masyarakat yang dihadapinya, diantara lain: Pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai, dan tradisi, sarana dan prasarana yang tersedia untuk mendukung perubahan perilaku kesehatan, sikap tokoh masyarakat, dukungan keluarga dan masyarakat sekitar.


Ā 
Ā 
Ā 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Bahaya Kesombongan Intelektual

Intelektual yang ideal adalah yang semakin alim, maka kian takut kepada Allah. Sikap sombong (al-kibr) adalah sebuah penyakit hati....

Ā 
Ā 
Ā 
Kebahagiaan Sejati

Pandangan umum yang menganggap kebahagiaan dapat ditemukan dengan memiliki lebih banyak uang, lebih banyak barang, lebih banyak status...

Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


© 2018 by Yusrin Ahmad Tosepu. Makassar, Sulawesi Selatan. Indonesia 

bottom of page