top of page

Dosen dan “Proyek”

  • Gambar penulis: Yusrin Ahmad Tosepu
    Yusrin Ahmad Tosepu
  • 3 Sep 2018
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 4 Sep 2018


Semua dosen tentunya mengharapkan penghasilan tambahan selain mengajar. Dengan penghasilan yang (relatif) terbatas, seorang dosen tentu harus bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya (dan keluarganya).


Yah, sudah menjadi rahasia umum, jika Anda berani terjun ke dunia pendidikan maka Anda harus berani untuk menerima penghasilan yang (relatif) terbatas.


Sebagai dosen, sudah bukan rahasia lagi, untuk bisa mendapatkan “penghasilan sampingan” dengan : mengerjakan proyek komersial di industri, melakukan berbagai pelatihan, mengajar di sana – sini, ataupun memulai suatu bisnis. Dan daftar tersebut bisa dibuat makin panjang.


Well, saya juga memiliki reaksi yang sama! Saat saya merasa “kurang”, maka akalpun berputar, dan kemungkinan – kemungkinan untuk mendapat penghasilan tambahan menjadi lebih diperhatikan.


Dosen mulai “berpikir kreatif” untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan mengerjakan proyek di luar dari kegiatan rutin yang saya biasa lakukan seperti : mengajar, membimbing mahasiswa, dsb.


Proyek yang dimaksud di sini tentunya proyek yang berhubungan dengan keilmuan yang digeluti, bukan bisnis sampingan yang sifatnya non teknis. tapi bukan karena alasan ekonomi semata sehingga dosen harus bergelut dengan proyek, karena saat seseorang menjadi dosen seharusnya ia siap dengan standar hidup yang sedikit lebih rendah dibanding orang yang bekerja di kantor/industri.


Saat dosen mengerjakan proyek di industri, dia akan dapat melihat dengan jelas dan nyata penerapan ilmunya di lapangan. Hal ini juga membuat dia lebih “up to date” secara keilmuan, karena sering kali kecepatan teknologi di industri lebih cepat daripada di kampus. Kemampuan dosen untuk melakukan troubleshooting juga akan lebih terasah, karena sering kali situasi di lapangan tidak seideal situasi di ruang kelas/laboratorium.


Tentunya dosen diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan ilmu yang lebih tepat guna dan “dapat dijual” di industri. Pihak industri juga lebih puas karena mereka mendapat lulusan yang lebih siap kerja. Selain ilmu, dosen juga dapat membagikan tentang gaya dan suasana kerja di industri yang lebih berfokus pada hasil, terikat deadline, dll.


Di lain sisi, dosen dapat melibatkan mahasiswa dalam tim yang mengerjakan proyek dari industri. Hal ini akan sangat membantu mahasiswa untuk siap di dunia kerja. Tentunya dengan proporsi waktu dan energi yang tepat, mengingat mahasiswa juga masih punya banyak kewajiban yang lain.


Namun demikian, juga ada sisi – sisi negatif dari hal ini. Proyek yang dikerjakan seringkali menuntut waktu lebih banyak, terkadang dosen dapat meninggalkan tugas utamanya untuk mengajar dan membimbing mahasiswa. Hal ini tidak etis karena panggilan dan tugas utama dosen ialah menjalankan Tri Dharma pendidikan.


Ada juga dosen yang memiliki banyak ilmu, ahli dalam proyek – proyek di industri, namun sangat sedikit berbagi dengan mahasiswa. Bahkan saat mengajar juga tidak fokus karena terlalu sibuk dengan proyeknya. Dalam hal ini tentu tidak berefek positif pada dunia akademik , karena hal itu tidak memberdayakan mahasiswa, hanya menguntungkan dosen yang bersangkutan saja.


Dosen perlu mengerjakan proyek hal itu sangat bermanfaat dalam pengembangan keilmuannya. Meski hal tersebut tidak mudah dan menuntut effort lebih, namun demi kualitas pengajaran bagi mahasiswa hal itu layak diusahakan.


Selain itu, dosen perlu menjauhkan diri dari keinginan untuk “mengumpulkan uang sebanyak – banyaknya” dari proyek. Motivasinya harus diganti dengan keinginan untuk memberdayakan mahasiswa agar lebih siap dunia kerja.


Memang tak di pungkiri jika dosen mengerjakan proyek pundi pundi keuangannya akan bertambah, tapi bukan uang sebagai tujuannya. Pengembangan keilmuan dan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan sebagai tujuan utamanya.

 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Bahaya Kesombongan Intelektual

Intelektual yang ideal adalah yang semakin alim, maka kian takut kepada Allah. Sikap sombong (al-kibr) adalah sebuah penyakit hati....

 
 
 
Kebahagiaan Sejati

Pandangan umum yang menganggap kebahagiaan dapat ditemukan dengan memiliki lebih banyak uang, lebih banyak barang, lebih banyak status...

 
 
 

Komentar


© 2018 by Yusrin Ahmad Tosepu. Makassar, Sulawesi Selatan. Indonesia 

bottom of page