top of page

Teknologi Digital Bukan Candu Tapi Penggunanya Kecanduan

  • Gambar penulis: Yusrin Ahmad Tosepu
    Yusrin Ahmad Tosepu
  • 29 Jun 2022
  • 4 menit membaca
Setiap perkembangan teknologi akan melahirkan dampak perilaku masyarakatnya. Dahulu televisi telah menjadi tertuduh utama, setelah itu film dan komik juga dianggap demikian, kini teknologi digital; smrtphone, gadget, video game, komputer dan internet telah menjadi pelaku ‘kriminal’ terakhir.


Teknologi digital memang telah membawa banyak perubahan bagi kehidupan masyarakat kekinian. Teknologi digital tengah menguasai kehidupan masyarakat saat ini, baik dari yang terkecil (anak-anak) sampai yang dewasa bahkan yang tertua pun sudah mulai jadi pecandu produk teknologi digital. Smartphone adalah produk yang paling banyak di digunakan oleh penduduk dunia saat ini. Gadget dan smartphone memberikan manfaat tersendiri bagi penggunanya.


Penggunaan teknologi digital di berbagai sendi kehidupan dewasa ini sudah banyak memberikan manfaat kepada masyarakat, kehadiran teknologi digital telah membawa berbagai manfaat, di antaranya yakni mampu memberikan kemudahan yang maksimal bagi manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. seperti mempercepat pertukaran informasi, meningkatkan produktifitas, dan lain sebagainya.


Selain itu, masih banyak pula manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan teknologi digital di berbagai aktivitas manusia. Hanya saja, Penggunaannya secara pasif memberikan dampak yang cukup negatif bagi penggunanya. Bahkan tak jarang semua aktifitas yang dilakukan masyarakat saat ini tak lepas dari peran dan penggunaan gadget dan teknologi digital.


Hadirnya teknologi digital telah mengubah tren media komunikasi. Salah satunya adalah munculnya media baru yg menyertainya, salah satu produknya adalah media sosial. Komunikasi dan pemberitaan ala media baru memberikan kesempatan lebih luas kepada khalayak untuk turut berkontribusi dan berpartisipasi dalam produksi informasi dan suplai konten berita. Juga termasuk agen distribusi berita.


Bisa dikatakan, konten tidak lagi dikuasai hanya oleh institusi media. Bahkan, dengan adanya fitur-fitur media sosial, saat ini pun setiap orang bisa berkontribusi melaporkan peristiwa secara langsung. Namun teknologi tidak serta merta mengubah pandangan semua orang tentang kebermaknaan dalam kehidupan.


Media sosial kini menjadi wadah digital dimana khalayak bisa berinteraksi satu sama lain. Tak jarang, aktivitas interaksi di media sosial juga mendukung kepentingan dan kebutuhan manusia. Di media sosial, realitas sosial terjadi sama halnya di dunia nyata. Nilai-nilai yang ada dalam masyarakat pun muncul dalam bentuk yang sama atau berbeda di media sosial.


Telah banyak penelitian yang mengenai internet yang menyimpulkan bahwa media sosial adalah gambaran yang terjadi di dunia nyata. Kasus-kasus yang sering kita temui di dunia nyata banyak terjadi pula di media sosial bahkan memiliki bentuk yang beragam. Selain itu, berbagai hasil riset mengungkap bahwa penggunaan gadget dan teknologi digital memberikan perbandingan dampak 1:3, dimana satu adalah manfaat yang diberikan dari penggunaan gadget dan teknologi. Sedangkan 3 adalah dampak negatif yang diberikan dari penggunaan gadget dan teknologi itu sendiri.



Penggunaan teknologi digital yg ‘berlebihan’ sering kali dinilai sebagai sesuatu yang berbahaya dan tidak sehat (terutama bagi anak-anak), mendorong kecanduan, keterasingan dari realitas, mengurangi kontak sosial serta pengalihan dan pergeseran aktivitas yang tidak berguna.


Masyarakat juga mesti sadar bahwa penggunaan teknologi digital turut membawa berbagai tantangan dan malah mendatangkan kerugian, seperti hoax, mempermudah penyebaran konten pornografi, penipuan online, perundungan siber/ cyberbullying, mempercepat dan memperluas paham radikalisme/ekstrimisme, mempermudah perjudian, dan lain sebagainya.


Nah, setidaknya beberapa pandangan berikut akan menjelaskan bagaimana posisi manusia terhadap teknologi tersebut (Nasrullah, 2014a; Silver, 2000; Wilhem, 2000 dalam Nasrullah, 2015).


Pertama, kelompok utopian. Secara harfiah, utopian berasal dari kata “utopis” yang merujuk pada sesuatu yang diidealkan tanpa adanya batasan-batasan atau situasi/tempat yang diidealkan seperti surge atau kesetaraan bagi semua orang. Dalam konteks ini, kaum utopian menerima keberadaan teknologi komunikasi sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh besar dalam hidupnya. Tidak hanya cara berkomunikasi tetapi juga budaya, sosial, politik, hingga ekonomi (McLuhan, 1964 dalam Nasrullah, 2015).


Kedua, kelompok dystopian. Kelompok ini memandang teknologi komunikasi secara lebih hati-hati. Keberadaan teknologi memunculkan berbagai kritik bahwa teknologi komunikasi menyebabkan munculnya keterasingan manusia dari realitas sosial-politik tertentu. Dalam konteks ini, pendukungnya menganggap bahwa hubungan komunikasi jauh lebih bermakna jika dilakukan secara langsung atau tatap muka daripada difasilitasi oleh media baru. Media sosial dianggap telah menggeser cara berkomunikasi masyarakat bahkan bisa berdampak negatif bagi praktik dan ruang komunikasi yang awalnya dipelihara secara demokratis.


Kelompok ini beralasan bahwa interaksi menjadi tidak teratur karena masyarakat kehilangan pusat dan nilai-nilai. Terkait pengaruhnya dalam tataran sosial, media baru membuat tatanan masyarakat menjadi terpecah, bahkan mengisolasi satu sama lain. Komunikasi yang tidak langsung juga menimbulkan adanya fragmentasi sosial.


Ketiga, kelompok technorealism. Kelompok ini berpandangan lebih realistis terhadap kemajuan teknologi dan pengaruhnya terhadap manusia. Internet memang memberikan pengaruh yang beragam bagi kehidupan manusia namun manusia tidak bisa menerima begitu saja atau menolak keberadaan teknologi tersebut. Adanya teknologi menuntut masyarakat untuk lebih berpikir kritis dan membuka pandangan terhadap pilihan-pilihan akibat dari adanya teknologi.


Bagi kelompok ini, teknologi atau media baru tidak selamanya akan mengubah total tatanan masyarakat. Teknologi perlu dilihat secara berimbang serta subjektif khususnya terkait potensi-potensi penting dari internet. Kelompok technorealism ini memegang dua prinsip penting (Wilhelm, 2000:23), sebagaimana dikutip oleh Nasrullah (2015: 71), yaitu: (1) Technologies are not neutral; dan (2) The internet is revolutionary, but not utopian.


Prinsip di atas hendak mengajak orang untuk melihat revolusi teknologi secara wajar. Hadirnya teknologi digital dengan media baru yg menyertainya tidak serta merta mengubah total proses komunikasi dan struktur masyarakat yang telah terbangun. Sebab, pengguna komunikasi virtual masih mempertahankan nilai-nilai yang selama ini dijadikan prinsip dalam komunikasi dunia nyata.


Mengalahkan Ketergantungan


Kecanduan penggunaan teknologi digital itu nyata dan tidak terhindarkan. Bahkan, ketergantungan berlebihan berdampak merusak karir dan hubungan, bahkan menurunkan kualitas hidup.


Teknologi digital membentuk dan mempengaruhi pola interaksi yang semula personal menjadi lebih impersonal, dan bahkan menghilangkan batas umur, budaya, strata sosial, wilayah hingga bahasa. Terbukanya batasan para pengguna tersebut membuat pola pergaulan di teknologi digital antara manusia menjadi lebih setara.


Namun, tak dipungkiri jika masyarakat zaman kini tentu sudah cakap digital, tapi masih belum menguasai dan paham mengenai kemajuan tekonologi untuk kemudahan kehidupan masyarakat. Walau begitu, sebagian masyarakat kita cendrung dipersulit dengan internet karena banyak yang menyalahgunakan internet dengan konten-konten negatif dan tidak dibarengi dengan bertumbuhnya minat baca atau literasi.


Namun, perlu dipahami bahwa bermanfaat atau mudarat-nya sebuah teknologi tentu kembali kepada unsur manusia itu sendiri. Oleh karena itu, dalam menggunakan teknologi digital, manusia sebaiknya lebih diperhatikan, atau dimana edukasi/ literasi digital lebih diutamakan.


Menyikapi hal itu, maka solusi terbaik yang untuk mengalahkan ketergantungan adalah Cakap Digital termasuk memahami penggunaan teknologi untuk Memudahkan Kehidupan. singkatnya, teknologi akan menjadi pedang bermata dua jika pengguna tidak bijak menggunakannya.


 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Bahaya Kesombongan Intelektual

Intelektual yang ideal adalah yang semakin alim, maka kian takut kepada Allah. Sikap sombong (al-kibr) adalah sebuah penyakit hati....

 
 
 
Kebahagiaan Sejati

Pandangan umum yang menganggap kebahagiaan dapat ditemukan dengan memiliki lebih banyak uang, lebih banyak barang, lebih banyak status...

 
 
 

Komentar


© 2018 by Yusrin Ahmad Tosepu. Makassar, Sulawesi Selatan. Indonesia 

bottom of page