Ada sebuah paradoks yang terus berulang dalam kehidupan sosial dan politik: masyarakat dapat hidup di tengah berbagai persoalan nyata, tetapi justru diajarkan untuk menerima akibatnya sebagai takdir tanpa cukup ruang untuk mempertanyakan sebabnya. Di sinilah persoalan berpikir menjadi penting. Kemiskinan tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa seseorang sedang diuji. Kelaparan tidak selesai hanya dengan meminta rakyat bersabar. Ketimpangan tidak dapat dibenarkan hanya