top of page

Fenomena Pemimpin doyan omon-omon

  • Writer: Yusrin Ahmad Tosepu
    Yusrin Ahmad Tosepu
  • Aug 18
  • 2 min read

Fenomena di mana seorang pemimpin politik setingkat presiden gemar melakukan omon-omon (banyak bicara, retorika berlebihan, minim aksi nyata) dapat dibedakan dan dianalisis melalui persimpangan psikologi politik, teori komunikasi persuasif, dan dinamika media modern.


Berikut adalah analisis komprehensif mengapa hal tersebut terjadi:


1. Impression Management dan Kebutuhan Kontrol Narasi

Dalam teori psikologi sosial, manusia terutama mereka yang berada di puncak kekuasaan—sangat bergantung pada impression management (pengelolaan kesan).


  • Ilusi Kompetensi: Retorika yang masif dan penggunaan diksi yang rumit sering kali digunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk menutupi minimnya penguasaan teknis atau ketiadaan kebijakan konkret. Otak manusia cenderung mengasosiasikan kefasihan berbicara (verbal fluency) dengan kecerdasan dan otoritas.


  • Pengalihan Isu (Diverusionary Tactics): Ketika menghadapi krisis struktural atau kegagalan kebijakan, berbicara tanpa henti tentang visi besar berfungsi sebagai tabir asap untuk mengalihkan perhatian publik dari substansi masalah ke retorika emosional.


2. Efek Echo Chamber dan Confirmation Bias

Komunikasi politik modern sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar pemimpin (inner circle).


  • Fenomena "Yes-Men": Seorang presiden yang dikelilingi oleh penjilat atau bawahan penurut jarang mendapatkan koreksi objektif. Hal ini memicu confirmation bias, di mana sang pemimpin meyakini bahwa apa yang diucapkan di ruang publik atau rapat sudah merepresentasikan realitas di lapangan.


  • Keterputusan Realitas (Detachment): Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin terisolasi ia dari realitas sosial akar rumput. Akibatnya, komunikasi verbal mereka berubah menjadi retorika abstrak yang tidak berpijak pada problem nyata yang dihadapi masyarakat.


3. Jebakan Simbolisme dalam Komunikasi Politik Modern

Dalam era media sosial dan image-driven politics, gaya sering kali mengalahkan substansi.


  • Politik Pencitraan (The Medium is the Message): Marshal McLuhan pernah mengingatkan bahwa media membentuk cara pesan diterima. Dalam lanskap politik saat ini, memproduksi kata-kata dan narasi harian jauh lebih murah dan cepat secara politik ketimbang merumuskan reformasi struktural yang membutuhkan waktu, energi, dan risiko politik tinggi.


  • Kepuasan Simbolik: Bagi sebagian pemilih, mendengar janji atau retorika yang berapi-api sudah memberikan kepuasan psikologis semu (symbolic reassurance), sehingga pemimpin merasa tidak terbebani untuk mengeksekusinya menjadi kebijakan berdampak.


4. Narcissistic Supply dan Validasi Kekuasaan

Dari sudut pandang psikologi kepribadian, panggung politik sering kali menarik individu dengan kebutuhan validasi yang tinggi.


  • Berbicara di depan publik memberikan aliran narcissistic supply—pujian, tepuk tangan, dan perhatian masif yang memicu dopamin.


  • Ketika seorang pemimpin terbiasa dikultuskan melalui mimbar pidato, fokus mereka bergeser dari penyelesaian masalah (problem solving) ke pencapaian panggung (stage presence), di mana memegang mikrofon terasa jauh lebih penting daripada memegang kendali kebijakan.


Kesimpulan

Fenomena presiden yang suka omon-omon adalah manifestasi dari pragmatisme politik yang gagal bertransisi menjadi kepemimpinan transformasional. Secara psikologis, ini adalah bentuk pelarian dari kompleksitas kerja nyata ke zona nyaman retorika verbal. Dalam jangka panjang, pola komunikasi seperti ini akan mengikis kepercayaan publik (crisis of trust) karena jurang pemisah antara janji verbal dan realitas empiris semakin melebar.


 
 
 

Comments


Follow

  • Facebook

Contact

082187078342

Address

Makassar, Sulawesi Selatan Indonesia

©2016 by Yusrin Ahmad Tosepu

bottom of page