Dahulu, banyak orang percaya bahwa gelar sarjana adalah kunci untuk masa depan yang cerah. Orang tua rela membayar biaya kuliah yang mahal demi kesempatan kerja yang lebih terbuka bagi anaknya. Masih relevankah pemikiran ini sekarang?
Sayangnya, sekarang gelar sarjana saja tak lagi cukup untuk membuat masa depanmu sejahtera. Jika kamu berniat jadi sarjana hanya supaya punya gaji tinggi, siap-siap saja kecewa.

Kenapa kuliah di era ini tidak bisa lagi disebut sebagai investasi masa depan? Simak ulasan berikut ini!
1. Di zaman orangtua, kuliah adalah satu-satunya jalan untuk menambah ilmu selepas SMA. Berbeda dengan kondisi sekarang yang punya internet untuk belajar apa saja.
Di zaman orangtua kita, pergi kuliah adalah satu-satunya cara untuk menambah ilmu setelah lulus SMA. Memang, di bangku universitaslah diajarkan untuk berpikir dan berargumen, menulis dan mengkritik. Teori-teori dasar yang sudah kita terima di bangku SMA pun diolah secara lebih dalam.
Kini kita tak perlu status sebagai mahasiswa resmi sebuah universitas untuk menambah ilmu yang kita dapat di SMA. Teknologi yang serba digital saat ini memang memudahkan kita mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia. Berbekal perangkat laptop/smartphone dan koneksi internet, kita bisa asyik berselancar di dunia maya; membaca berita, berbisnis, hingga kuliah online.
Tercatat ada puluhan universitas top dunia yang saat ini mengijinkan materi-materi perkuliahan mereka diakses gratis. Mereka menyediakan kumpulan jurnal, video perkuliahan, hingga forum-forum diskusi yang terbuka untuk umum. Cukup klik Coursera tinggal memilih materi dari kampus yang kamu inginkan. Sekolah musik Berklee, kampus teknologi MIT, Harvard, hingga layanan kursus coding online seperti Codecademy atau Code School tersedia di sini.
2. Gelar sarjana juga tak akan bergaji besar jika tak punya pengalaman kerja.
Masih banyak dari kita yang percaya bahwa sarjana sudah pasti dapat pekerjaan yang layak dengan mudah. Padahal, data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Februari 2017 mencatat jumlah sarjana yang menganggur mencapai 400 ribu orang atau 4,3% dari total pengangguran yang tercatat sebanyak 7,2 juta orang.
Status sarjana pun tak akan otomatis punya pekerjaan bergaji besar. Ya, kamu boleh jadi punya titel sarjana. Tapi belum tentu punya pengalaman kerja. Sementara, Pertambahan jumlah pencari kerja tak sebanding dengan pertambahan lapangan pekerjaan. Akibatnya, untuk satu lowongan pekerjaan saja bisa diperebutkan puluhan orang. Belum lagi standar gaji yang berlaku di negeri kita masih rancu. Jika hanya mengacu pada UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 Pasal 90 ayat (1), yang berbunyi; “Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum”
Upah Minimum Regional (UMR) adalah standar bagi para pelaku industri atau pengusaha; nilai gaji terendah yang harus dibayarkan perusahaan pada karyawan tanpa terpengaruh jenjang pendidikan. Lulusan SMA atau Sarjana, buruh atau karyawan, pegawai kontrak atau tetap; bisa jadi mendapat gaji yang sama – senilai UMR.
4. Gelar sarjana hanya akan masuk golongan pekerja kelas menengah, jika tak punya skill khusus yang praktikal.
Pendidikan ala universitas tidak didesain untuk menghasilkan pekerja, namun pemikir alias scholar. Untuk sukses di dunia kerja, lulusan sarjana tidak hanya dituntut untuk bisa berpikir, namun juga bisa memiliki skill atau keahlian khusus yang praktikal. Misalnya: kemampuan berbahasa asing, kemampuan menulis, fotografi, atau programming.
Waktu kuliah selama 4 tahun (umumnya) akan terbuang sia-sia jika hanya berpatokan pada nilai bagus dan gelar. Pasalnya, saat memasuki dunia kerja, sarjana bermodal gelar hanya sampai pada level menengah. Pekerja jenis ini sulit mencapai puncak karir dan prestasinya sekadar stagnan. Bukan tidak mungkin, pencapaiannya justru kalah dengan mereka yang non-sarjana tapi punya kemampuan atau skill yang mumpuni.
5. Integritas kampus sebagai tempat berkumpulnya kaum intelektual pun bukannya tanpa noda.
Berpikir bahwa kampus jadi satu-satunya tempat dimana kita bisa menghamba ilmu adalah keliru. Faktanya, sistem pendidikan metode pembelajaran yang masih cacat di sana-sini membuat kita tak maksimal belajar. Dosen sering tak hadir di kelas, buku-buku perkuliahan tak tersentuh proses upgrade, hingga materi yang disampaikan dosen ternyata hanya sekadar copy paste dari buku-buku. Miris, bukan?
Nah, atas alasan inilah, kita pantas mempertanyakan kembali peran perguruan tinggi sebagai penyedia ilmu. Apakah uang yang dibayarkan memang sepadan dengan ilmu yang kita dapat? Apakah kampus sudah tuntas mendidik kita jadi manusia yang berguna dan punya intelektualitas? Atau, kampus justru tak lebih dari penjaja ilmu pengetahuan yang pintar-pintar meyakinkan orang tua kita agar mau membayar biaya masuk dengan cara sembarangan memasang embel-embel World Class University?
6. Kampus akan membuatmu terseok-seok dulu demi meraih gelar sarjana. Padahal, mungkin sebenarnya anda sudah siap melenggang ke tahap hidup yang selanjutnya.
Alih-alih jadi investasi masa depan, tak jarang kampus justru memaksa mahasiswa untuk menginvestasikan umurnya. Yup, banyaknya beban mata kuliah atau proses skripsi yang berbelit-belit menjadikan mahasiswa butuh waktu lama untuk lulus. Jika normalnya S-1 ditempuh selama 4 tahun, seorang mahasiswa bisa jadi butuh waktu 6 tahun atau bahkan lebih. Padahal, banyak hal yang sudah menanti untuk dikerjakan selanjutnya.Segera bekerja atau menikah misalnya.
7. Dan ketika kamu resmi diwisuda, anda pun harus rela belajar dari nol lagi begitu masuk dunia kerja!
Entah terdesak kebutuhan atau didasari alasan lain, banyak sarjana akhirnya memilih pekerjaan yang tak sejalur dengan pendidikan dan gelarnya. Misalnya, seorang Sarjana Sastra atau Sarjana Hukum justru bekerja sebagai teller bank yang mengharuskannya banyak-banyak berhitung dan mulai belajar ilmu akuntansi. Ilmu yang sudah dipelajari selama bertahun-tahun justru tak bisa digunakan secara maksimal dalam pekerjaan yang tengah digeluti.
Tentu tak ada istilah sia-sia dalam menuntut ilmu. Tapi, alangkah baiknya jika ilmu yang sudah dipelajari memang benar-benar bisa diaplikasikan secara nyata dalam pekerjaan. Setidaknya, ada rasa puas yang bisa dirasakan mengingat perjuangan selama masa kuliah yang tak bisa dibilang mudah.
Nah, gimana? Apakah kamu setuju dengan poin-poin di atas, atau justru punya pendapat berbeda?
Well…artikel ini bukan berarti tidak mendukung generasi kita untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tapi, setidaknya kita bisa terlebih dulu masak-masak berpikir sebelum mengambil keputusan. Kuliah itu sah-sah saja selama kita paham betul kebaikan dan kekurangannya. Dan jangan lupa: hanya karena kamu punya gelar sarjana, belum tentu kamu otomatis akan sejahtera, ya!
Disarikan dari : https://www.hipwee.com/.../mari-berpikir-lagi-kenapa...
Opmerkingen