top of page

Menyikapi Isu-Isu Pendidikan Tinggi Kekinian

  • Writer: Yusrin Ahmad Tosepu
    Yusrin Ahmad Tosepu
  • Sep 16, 2022
  • 5 min read

Isu Pendidikan adalah suatu hal penting dalam pendidikan yang selalu menjadi bahan pembicaraan hangat saat ini. selalu menjadi topik pembahasan yang menarik akhir-akhir ini.


Penguatan relevansi kompetensi ilmu dengan masyarakat pengguna menjadi salah satu isu utama dunia pendididikan tinggi Indonesia sekarang ini.


Isu relevansi ini terkait pergeseran tata-nilai masyarakat: dari Orientasi gelar ke orientasi keterampilan kerja.


Selain itu, perubahan cara kerja pendidikan tinggi dalam merespon gambaran tuntutan generasi Z dan Generasi Alfa serta tuntutan terhadap dosen dan Mahasiswa era digital menjadi topik pembicaraan hangat saat ini.


Berikut ulasan isu-isu dunia pendidikan tinggi yang menjadi topik pembahasan yang menarik akhir-akhir ini.


Pertama : Isu Pergeseran Tata-nilai Masyarakat: dari Orientasi Gelar ke Orientasi Keterampilan Kerja


Saat ini terjadi pergeseran tata nilai di masyarakat terdidik di Indonesia. Yakni, pergeseran nyata dari orientasi gelar ke orientasi kerja. Pendidikan tinggi sekarang ini dituntut mampu melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan masyarakat.


Link-and-match adalah salah satu solusi untuk menjawab tantangan pendidikan tinggi dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha dan industri sekarang ini. Link-and-match adalah kebijakan pemerintah yang digagas beberapa dasawarsa yang lalu kini telah memperoleh momentumnya yang tepat dan produktif.


Program “link and match” sejatinya memang tidak hanya menguntungkan dunia pendidikan yang menjadi lebih mudah menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Sebaliknya, dunia kerja dan industri pun merasakan hal yang sama dengan mendapatkan tenaga kerja andal atau skill tenaga kerja yang sesuai dengan job desk-nya.


Diharapkan program link and match tidak hanya sekadar tanda tangan MoU, foto-foto kemudian masuk koran. Ia menganalogikan pada hubungan dua orang yang sedang berpacaran dan sampai pada jenjang menikah. Program link and match hingga level menikah diarahkan untuk mengembangkan teaching factory. Jadi teaching industry masuk ke dalam kurikulum.


Melalui link and match ini, lulusan perguruan tinggi akan memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh kerja dan industri sekarang ini. Maka lulusan perguruna tinggi ke depan akan lebih banyak terserap ke dunia kerja dan dunia industri atau bisa berbisnis atau ke pekerjaan lain.


Pendidikan tinggi harus melibatkan langsung dunia usaha dan industri (komunitas profesi, asosiasi, prakitisi, pelaku bisnis, dsb) dalam kegiatan proses belajar mengajar dan pembuatan kurikulum bersama. Di mana kurikulum tersebut harus disinkronisasi setiap tahun dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.


Kemudian pemberian magang kepada mahasiswa dari industri yang dirancang bersama, pelaksanaan magang minimal satu semester. Mahasiswa harus dibekali pula dengan sertifikasi kompetensi. Sertifikat dibutuhkan untuk menunjukan level kompetensinya.


Menghadirkan dosen tamu dari kalangan, prakitisi, pelaku bisnis, dsb dalam kegiatan pembelajaran merupakan kebutuhan. Dengan kata lain kolaborasi antara dosen praktisi dan akademisi menjadi kebutuhan pendidikan mutlak bagi pendidikan tinggi sekarang ini.


Kolaborasi tersebut dapat tingkatkan kompetensi mahasiswa. Dengan berkolaborasi bersama antara kampus dan praktisi, diharapkan dapat melahirkan lulusan-lulusan yang kompeten dalam bidang akademik maupun profesional di dunia industri.


Dengan melibatkan praktisi mengajar, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman langsung dari praktisi profesional sesuai bidangnya. Mahasiswa bukan hanya mendapatkan kompetensi akademik, kepakaran, cara berpikir, cara pemecahan problem, tetapi juga langsung dihadapkan pada problem riil dari pengalaman yang disiapkan atau disampaikan oleh para praktisi yang dihadirkan di kampus.


Kolaborasi antara akademik dengan praktisi diharapkan dapat menghasilkan para lulusan mempunyai paket lengkap baik secara akademik maupun profesional di dunia industri agar siap pakai, siap kerja, dan siap berwirausaha.


Dosen dan praktisi akan saling berkolaborasi dan melengkapi, bukan mengganti. Selain mendidik dan membimbing mahasiswa dari sisi keilmiahannya di kelas, dosen juga membutuhkan pengalaman di dunia industri. Begitupun dengan praktisi, mereka juga membutuhkan ilmu yang melandasi kompetensinya.


Para praktisi dapat berkontribusi dan memperlihatkan bahwa pembelajaran kontekstual menjadi sangat penting karena ilmunya dapat diterapkan secara langsung dimanapun ia berada. Praktisi dapat langsung melibatkan mahasiswa untuk berbagi pengalaman di lapangan.


Nantinya juga belajar dilakukan dengan mendatangi langsung perusahaan atau industri. Ini akan memberikan banyak cara pandang dan melatih mahasiswa untuk melihat bahwa persoalan bisa diselesaikan tidak hanya dari satu sisi.


Praktisi mengajar menjadi salah satu program Merdeka Belajar yang telah diluncurkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Program ini merupakan salah satu implmentasi dari kebijakan link and match untuk penguatan relevansi kompetensi ilmu lulusan perguruan tinggi.


Program ini harus terus ditingkatkan dan dikembangkan pemerintah dan khususnya perguruan tinggi agar memberi dampak yg lebih besar terhadap kualitas lulusan pendidikan tinggi dalam menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat saat ini.


Perguruan tinggi dan dosen harus mampu memfasilitasi terwujudnya program link-and-match ini sampai benar-benar dapat mengecap hasilnya. Kita yakin—dengan niat mengutamakan kemanfaatan bagi orang banyak—program ini akan jadi pola yang menguntungkan bagi pendidikan dan pengembangan sumberdaya insani di negeri kita.


Kedua : Perubahan Cara Kerja Pendidikan Tinggi dalam Merespon Gambaran Tuntutan Generasi Z dan Generasi Alfa


Banyak informasi yang “simpang-siur”, spekulasi berseliweran yang kita baca dan wacanakan bahwa generasi sekarang ini yang kita labeli dengan “generasi Z” dan “generasi Alfa” merupakan generasi yang memerlukan suatu “cara hidup” dan “kehidupan” yang membutuhkan cara penanganan khusus.


Dosen dan perguruan tinggi seyogianya jangan terbius oleh yang hal-hal yang tampak beda. Sebaiknya memandang generasi mendatang (baik Z maupun Alfa) sebagaimana generasi sebelumnya. Cuma saja, konteks yang dihadapinya—dalam beberapa hal—berbeda.


Keperluan belajar generasi Z dan genarasi Alfa akan sama saja seperti generasi sebelumnya, mereka perlu mengetahui konsep-konsep yang melekat pada kenyataan hidup yang dilakoninya, dan mereka memerlukan prosedur-prosedur yang akan memungkinkannya berkembang lebih terampil dan mereka harus memahami kasus-kasus yang terjadi dalam kehidupan yang mungkin dirasakan dan/atau disaksikannya.


Dengan cara memosisikan situasi seperti ini, dosen beitupula perguruan tinggi perlu memfasilitasi dan dan perlu memutakhirkan pengetahuan khususnya yang bertalian dengan basis cara-pikir agar dapat menyesuaikan perkembangan dan kemajuan jaman, khususnya dalam mendidik dan membelajarkan generasi kekinian.


Ketiga : Tuntutan terhadap Dosen, Guru, dan Mahasiswa Era Digital


Dosen dan perguruan tinggi kekinian makin dituntut untuk dapat melahirkan sarjana terdidik dan terlatih. Oleh karena itu, dosen begitupula PT harus mengkaji, mempelajari kebutuhan pendidikan sekarang ini dan merumuskan peran baru yang mungkin dituntut keadaan masa datang agar generasi yg didik saat ini memiliki peran bermakna di masa depan.


Untuk menghadapi tantangan dunia pendidikan tinggi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang ini, salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah elaborasi model pembelajaran berbasis “pelatihan” (coaching).


Dahulu, di era tahun 1980-an , dosen diposisikan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang memberikan arahan dan buku-buku rujukan yang ditulisnya sendiri.


Dasawarsa 2000-an ke atas, peran dosen diharpkan telah beralih fungsi. Untuk dapat melayani dan mendampingi generasi Z yang lahir dasawarsa 2010 dan sesudahnya, perangkat peran baru yang diindikasikan adalah posisi dosen sebagai pelatih (coach).


Sebagai pelatih, tentu saja dosen harus menunjukkan kinerja yang mumpuni sebagai coach. Kemampuan ini dicirikan dengan tiga jenis basis pengetahuan: pengetahuan teoretis yang relevan dengan segala komponen konseptual yang mendukungnya; pengetahuan prosedural yang merupakan buah dari ketelatenan latihan; dan pengetahuan kasus-kasus yang relevan (yang diperoleh melalui membaca riset dalam bidangnya).


Perguruan tinggi perlu memberi dukungan yang sebesar-besarnya kepada para dosen dalam bentuk “pengayaan dan latihan”, yang akan memungkinkannya dapat memerankan peran barunya dengan baik sebagai coach.


Beberapa yang perlu dilatihkan kepada para pelatih (coach):

  • Membaca kritis;

  • Menulis akurat dan kritis;

  • Membaca dan menulis untuk menciptakan pengetahuan baru (syntopical reading & synthesis writing)

Selain kemampuan membaca dan menulis yang harus dikembangkan sampai pada tingkat mahir-dan-fungsional, para dosen yang ada dalam sistem perlu dimutahirkan pengetahuan dan keterampilannya sehingga memungkinkan baginya untuk mengajarkan secara eksplisit materi-materi pilihan yang memungkinkan munculnya para pembelajar era-digital yang terampil berpikir dan terampil mengoperasikan perangkat pembelajaran yang ada dalam jangkauannya.


Secara lebih terinci, dalam pembelajaran eksplisit pola yang telah teruji sangat berhasil dalam riset adalah pola-tiga-bagian berikut: “demonstration, modeling, explanation”; “guided practice with feedback”; dan “independent practice.”


Dengan cara yang lain, kita dapat menjalankan pengajaran konsep dan keterampilan ini dalam tiga-tahapan:


  • “I DO IT—dosen memberikan model dan menjelaskan kepada siswa pembelajar. Watch me do it first.”

  • “WE DO IT—dosen dan mahasiswa sama-sama melakukan apa yang tadi didemonstrasikan oleh dosen, dengan feedback dari dosen. “Let’s do it together, and I will help you.”

  • “YOU DO IT—mahasiswa melakukan latihan sendirian. “Now you do it on your own.” Tahap ini merupakan latihan mandiri yang ketuntasannya harus dipastikan sampai mahir. Sampai pada level otomatis.

Model pengembangan konsep dan kemampuan prosedural tiga tahap ini, bila dilakukan secara akurat dan dengan keseriusan, akan dapat mengentaskan mahasiswa dari ketakmanpuannya berpikir kritis dan bertindak strategis.


Model pengembangan konsep dan kemampuan procedural dapat diterapkan dan dilakukan dengan baik asalkan disiplin dan fokus pada garapan utama kita menciptakan generasi masa depan yang terdidik dan terlatih dalam menghadapi perkembangan dan kemajuan jaman di segala bidang kehidupan.


 
 
 

תגובות


Follow

  • Facebook

Contact

082187078342

Address

Makassar, Sulawesi Selatan Indonesia

©2016 by Yusrin Ahmad Tosepu

bottom of page