Peneliti atau Pemburu Hibah?
Updated: 2 hours ago

Ada fenomena menarik dalam dunia penelitian kita. Begitu seorang peneliti mendapatkan hibah, kabar yang beredar sering kali bukan tentang apa yang ditemukan, melainkan berapa uang yang diperoleh.
“Alhamdulillah, mendapatkan hibah Rp500 juta.”
“Bangga bisa memperoleh pendanaan Rp2 miliar.”
“Universitas kami berhasil mendapatkan dana penelitian Rp30 miliar.”
Angka-angka itu diumumkan dengan penuh kebanggaan. Kadang lengkap dengan foto, sertifikat, surat keputusan, atau pose bersama pejabat.
Saya sampai berpikir: jangan-jangan kita sedang keliru memahami apa yang disebut prestasi penelitian.
Peneliti yang mendapatkan dana besar diperlakukan seperti atlet yang baru memenangkan medali emas.
Bedanya, atlet membawa pulang medali.
Peneliti membawa pulang anggaran.
Tentu saja, mendapatkan hibah adalah prestasi. Proposal telah melewati proses seleksi dan peneliti dipercaya untuk mengelola dana demi melaksanakan pekerjaan akademik.
Tetapi persoalan muncul ketika jumlah dana mulai diperlakukan sebagai ukuran utama kehebatan seorang peneliti.
Padahal uang penelitian bukan hadiah.
Uang penelitian adalah amanah.
Dana diberikan agar sesuatu dikerjakan dan menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Ada pengetahuan yang harus lahir.
Ada persoalan yang harus dipahami.
Ada inovasi yang diharapkan muncul.
Ada solusi yang semestinya dapat digunakan.
Peneliti bukan mendapatkan uang untuk kemudian berkata:
“Lihat, saya dapat Rp3 miliar.”
Yang lebih menarik justru pertanyaan setelah Rp3 miliar itu selesai digunakan:
Apa yang dihasilkan?
Sayangnya, pertanyaan tersebut sering kali jauh kurang menarik untuk dipamerkan.
Foto menerima hibah jauh lebih Instagramable daripada foto teknologi yang benar-benar digunakan masyarakat.
Berita tentang “berhasil mendapatkan pendanaan” jauh lebih mudah dibuat daripada cerita tentang sebuah penelitian yang lima tahun kemudian ternyata mengubah kehidupan orang.
Kampus pun kadang ikut menikmati logika yang sama.
LPPM mengumumkan keberhasilan memperoleh pendanaan sekian miliar rupiah.
Rektor menyebutnya sebagai capaian institusi.
Angka pendanaan masuk ke berbagai laporan kinerja dan menjadi bahan kebanggaan dalam pidato. Lalu kita bertepuk tangan.
Maklum. Angka miliaran memang memiliki daya magis tersendiri. Semakin banyak angka nolnya, semakin terdengar hebat.
Padahal, berhasil memperoleh dana dan berhasil menghasilkan dampak adalah dua perkara yang berbeda.
Sebuah institusi bisa sangat sukses mendapatkan pendanaan, tetapi belum tentu sukses mengubah keadaan melalui penelitian yang didanainya.
Di sinilah kita perlu sedikit kritis terhadap budaya akademik yang terlalu mudah terpukau oleh nominal.
Sebab penelitian akhirnya bisa berubah menjadi semacam kompetisi fundraising.
Peneliti berlomba mendapatkan hibah.
Fakultas berlomba mendapatkan hibah.
Universitas berlomba mendapatkan hibah.
LPPM berlomba menunjukkan besarnya dana yang berhasil dihimpun.
Lalu kita merasa sudah menjadi universitas riset.
Padahal mungkin kita baru menjadi universitas yang pandai mendapatkan anggaran penelitian.
Itu bukan perkara yang sama.
Lebih problematis lagi jika seorang peneliti memamerkan nominal hibah seolah-olah uang tersebut merupakan kekayaan pribadinya.
Padahal dana itu melekat pada kegiatan penelitian, memiliki aturan penggunaan, harus dipertanggungjawabkan, dan pada akhirnya berasal dari pihak yang memberikan kepercayaan.
Memamerkan jumlah hibah tanpa membicarakan hasil penelitian kira-kira seperti seorang kontraktor membanggakan nilai proyek, tetapi tidak pernah memperlihatkan bangunan yang dibangun.
Tentu saja kemampuan memenangkan hibah tetap layak dihargai.
Peneliti yang mampu memenangkan kompetisi pendanaan menunjukkan kemampuan menyusun proposal, merancang penelitian, membangun jejaring, menjawab kebutuhan pendanaan, dan meyakinkan reviewer. Itu bukan hal kecil.
Tetapi memenangkan hibah hanyalah gerbang masuk.
Setelah uang diterima, pekerjaan sebenarnya justru dimulai.
Karena itu, ketika muncul klaim pendanaan penelitian dengan nilai sangat besar—bahkan sampai triliunan rupiah kita seharusnya tidak hanya terpukau.
Semakin besar angkanya, justru semakin banyak pertanyaan yang layak diajukan.
Dana itu untuk apa?
Siapa yang memberikan?
Berapa lama periodenya?
Bagaimana mekanisme pengelolaannya?
Apa target keluarannya?
Apa hasil yang dijanjikan?
Siapa yang akan menerima manfaat?
Dan yang paling penting:
Apa dampaknya setelah penelitian selesai?
Tanpa konteks, angka hanyalah angka.
Nolnya boleh panjang.
Tetapi belum tentu dampaknya panjang.
Sudah saatnya budaya penelitian sedikit bergeser.
Peneliti tidak perlu malu mendapatkan hibah besar.
Kampus juga tidak perlu malu mengumumkan keberhasilan memperoleh pendanaan.
Yang perlu diubah adalah ketika kebanggaan berhenti pada nominal. Sebab pada akhirnya masyarakat tidak terlalu membutuhkan informasi bahwa seorang peneliti mendapatkan Rp2 miliar.
Masyarakat membutuhkan jawaban: Mengapa Rp2 miliar itu layak diberikan kepadanya?
Di situlah penelitian diuji. Bukan ketika proposal dinyatakan lolos.
Bukan ketika transfer dana masuk.
Bukan ketika foto bersama pejabat terpampang.
Penelitian baru benar-benar menunjukkan nilainya ketika pengetahuan yang dihasilkan tidak berhenti menjadi laporan.
Ketika inovasi tidak berhenti menjadi prototipe.
Ketika artikel ilmiah tidak hanya menjadi angka dalam daftar publikasi.
Dan ketika hasil penelitian benar-benar memberikan manfaat di luar ruang seminar, rak perpustakaan, repositori kampus, atau laporan pertanggungjawaban.
Sebab kalau penelitian hanya menghasilkan laporan untuk memenuhi kontrak hibah, mungkin yang berhasil bukan penelitiannya.
Yang berhasil hanya administrasinya.
Maka barangkali kita perlu berhenti menjadikan besarnya dana sebagai mahkota akademik.
Penelitian bukan lomba mencari uang.
Peneliti bukan fundraiser.
LPPM bukan kasir.
Dan hibah bukan piala.
Yang layak dipamerkan pada akhirnya bukan berapa banyak uang yang berhasil masuk ke rekening kegiatan penelitian.
Yang layak dipamerkan adalah:
apa yang tersisa setelah uang itu habis.
Pengetahuan apa yang lahir.
Inovasi apa yang bekerja.
Persoalan apa yang berhasil dipahami.
Kebijakan apa yang menjadi lebih baik.
Masyarakat mana yang memperoleh manfaat.
Dan perubahan apa yang benar-benar terjadi.
Sebab pada akhirnya, nilai sebuah penelitian tidak ditentukan oleh panjangnya angka nol dalam anggaran, tetapi oleh panjangnya jejak manfaat setelah penelitian itu selesai.




Comments