top of page
Search


MENGGOBLOK-GOBLOKKAN PAKAR? INI BUKAN SEKADAR IRONI
Ada sesuatu yang menurut saya benar-benar janggal. Seseorang mengaku tidak ingin melihat anak-anak Indonesia menjadi generasi yang “otaknya lemah”. Katanya ingin pendidikan lebih baik. Katanya ingin anak bangsa lebih pintar. Tetapi pada saat yang sama, para pakar justru digoblok-goblokkan. Lalu kita harus bertanya: sebenarnya yang sedang dibela itu kecerdasan anak bangsa, atau ego pribadi? Sebab kalau benar ingin anak-anak Indonesia cerdas, mestinya kita menghormati ilmu, pen
Yusrin Ahmad Tosepu
Sep 202 min read


BERPIKIR KRITIS SEBAGAI KETERAMPILAN HIDUP DI ERA AI
Ketika Informasi Semakin Cerdas, Manusia Justru Harus Semakin Kritis Di era kecerdasan buatan (AI), persoalan terbesar manusia bukan lagi kekurangan informasi, melainkan ketidakmampuan membedakan informasi yang benar, informasi yang menyesatkan, opini yang dikemas seperti fakta, dan kebisingan yang sengaja dibuat agar dipercaya. AI telah mengubah cara manusia memperoleh, memproduksi, menyebarkan, bahkan memanipulasi informasi. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menghasilka
Yusrin Ahmad Tosepu
Aug 275 min read


Kampus Tidak Dikenal dari Gedungnya, tetapi dari Budaya yang Hidup di Dalamnya
Kualitas sebuah perguruan tinggi tidak semestinya diukur hanya dari kemegahan gedung, jumlah program studi, banyaknya mahasiswa, peringkat, atau deretan prestasi yang dipajang dalam laporan institusi. Hakikat perguruan tinggi justru terlihat dari budaya yang hidup di dalamnya: bagaimana manusia diperlakukan, bagaimana aturan ditegakkan, bagaimana kesalahan dikoreksi, bagaimana keteladanan dibangun, dan bagaimana setiap warga kampus menjalankan tanggung jawabnya. Gedung dapat
Yusrin Ahmad Tosepu
Aug 224 min read


Pendidikan Bukan Sekadar Menghasilkan Orang Pandai, tetapi Membentuk Manusia yang Bijaksana
Terlalu lama pendidikan dipahami secara sempit sebagai perlombaan mengumpulkan nilai, mengejar peringkat, menyelesaikan jenjang studi, dan memperoleh ijazah. Dalam paradigma semacam ini, keberhasilan pendidikan sering kali diukur dari angka: berapa IPK yang diperoleh, siapa yang menjadi juara, siapa yang lulus paling cepat, dan siapa yang mendapatkan predikat terbaik. Persoalannya bukan karena nilai akademik tidak penting. Nilai tetap memiliki fungsi sebagai salah satu indika
Yusrin Ahmad Tosepu
Aug 227 min read


Setelah Materi kuliah diselesaikan, Apa yang Tertinggal dari Seorang Dosen?
Refleksi tentang makna mengajar, jejak kemanusiaan, dan pendidikan yang melampaui nilai akademik. Coba jawab dengan jujur: ketika seorang dosen telah selesai mengajar satu mata kuliah, apa yang sebenarnya tertinggal dalam ingatan para mahasiswanya? Apakah materi yang pernah disampaikan? Nilai yang diberikan? Slide presentasi yang memenuhi ruang kelas? Atau justru kebaikan-kebaikan kecil yang pernah dilakukan dosen ketika mahasiswa sedang berada pada titik paling membutuhkan p
Yusrin Ahmad Tosepu
Aug 213 min read


Buku Bermutu atau Sekadar Buku yang Lolos Checklist Administrasi?
Mengkritisi Penilaian Buku di Era Akademik Buku seharusnya dinilai dari isi, kualitas gagasan, kedalaman analisis, kebaruan, manfaat bagi pembaca, dan kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan. Namun, dalam praktik birokrasi akademik, penilaian tersebut berisiko bergeser menjadi persoalan kelengkapan atribut administratif: ISBN, penerbit, keanggotaan IKAPI, HKI, surat keterangan, hingga berbagai bukti pendukung lainnya. Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: apakah semakin ba
Yusrin Ahmad Tosepu
Aug 204 min read


Konsep Mendengar dan Menyimak: Koneksi Mata, Telinga, Otak, dan Hati
Mendengar bukan sekadar menangkap suara. Menyimak adalah proses yang jauh lebih kompleks: melihat dengan perhatian, mendengar dengan kesadaran, mengolah dengan otak, merasakan dengan hati, lalu merespons secara bijaksana. Di sinilah mata, telinga, otak, dan hati bekerja sebagai satu sistem komunikasi manusia. Mata berfungsi menangkap konteks. Ketika seseorang berbicara, kita tidak hanya menerima kata-kata, tetapi juga membaca ekspresi wajah, gerak tubuh, kontak mata, dan situ
Yusrin Ahmad Tosepu
Aug 186 min read


AKADEMISI BODOH: Ketika Gelar Tinggi Tidak Berbanding Lurus dengan Kecerdasan Hidup
Gelar akademik tidak otomatis membuat seseorang menjadi bijaksana. Gelar hanya menunjukkan bahwa seseorang telah melewati proses pendidikan tertentu. Demikian pula ilmu pengetahuan tidak otomatis menjadikan seseorang mampu menjalani kehidupan dengan baik. Di sinilah kita perlu membedakan antara orang yang memiliki ilmu dan orang yang mampu menghidupkan ilmunya dalam kehidupan nyata. Seorang akademisi dapat memiliki gelar doktor, bahkan profesor, menguasai berbagai teori, menu
Yusrin Ahmad Tosepu
Aug 154 min read
bottom of page
