top of page

REALITAS PENDIDIKAN TINGGI INDONESIA

  • Yusrin Ahmad Tosepu
  • Feb 5, 2017
  • 2 min read

Pengembangan dan Kemajuan pendidikan tinggi Indonesia bukan hanya tanggungjawab pemerintah semata, tapi semua elemen dan lapisan masyarakat Indonesia. Disadari bersama, tentang apa yang terjadi di dunia pendidikan tinggi.


Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi masih terus berupaya mengembangkan dan memajukan mutu pendidikan tinggi Indonesia, walaupun terkadang tugas dan fungsinya hanya memperpanjang dan memperkuat dunia birokrasi dan administrasi pendidikan tinggi belaka, tanpa perubahan yang substansial ke arah lebih baik. (Perspektif atas realita yang ada)


Telah banyak Tulisan-tulisan soal pendidikan tinggi, mulai dari ide, konsep, gagasan, bahkan kritikan yang semuanya berharap dunia pendidikan tinggi Indonesia maju dan berkembang sejajar dengan negara yang sudah keduluan maju sistem pendidikan tingginya.


Salah satu realitas menarik seputar dunia pendidikan tinggi kita, sering kita jumpai dosen jarang masuk kampus kecuali ada jadwal mengajar. Realitas yang biasa, tapi luar biasa. Kenapa demikian ? Alasan utamanya adalah para dosen sibuk melakukan pekerjaan sambilan untuk mencari pendapatan tambahan. Salah satu penyebabnya adalah klasik yaitu rendahnya pendapatan dosen di Indonesia, apalagi dosen PTS, nggak perlu lagi di pertanyakan.


Disisi lain, sepinya kampus dari hiruk pikuk kegiatan dosen, akibat minimnya fasilitas, sarana dan prasarana kampus yang layak bagi dosen untuk meneliti, menulis, membaca, membimbing mahasiswa, mengakses jurnal atau buku-buku terbaru.


Apalagi kampus PTS, nggak perlu lagi di pertanyakan. Bahkan dosen tak punya meja kerja, jadi menulis, membaca, membimbing mahasiswa ya dilakukan di rumah masing-masing, di kantin kampus, atau di warung kopi (warkop) sambil minum kopi susu dan makan indomie rebus plus tidak lupa merokok walaupun beli mie rebus dan rokok terkadang CASH BON karena honor mengajar telat dibayar.


Honor mengajar biasanya di bayarkan “tanggal 38 atau tiga semester berikutnya”, kata teman teman dosen PTS di Sulawesi. Sedih dan memilukan.., . Suasana yang sama juga mungkin tejadi di Kalimantan, Maluku, Papua, dan Sebagian Jawa Dan Sumatera.


Khususnya di Makassar ada istilah “KEJARLAH ILMU SAMPAI KE RUKO (Rumah Toko)”, kenapa demikian ? Gedung perkuliahan kampus di rumah toko, tidak lazim kampus pada umumnya, notabenya minim fasilitas dan sarana pendukung kegiatan belajar mengajar. Bahkan, untuk parkiran kendaraan pun nyaris tak tersedia..,


Jika realitasnya seperti ini, mutu pendidikan tinggi Indonesia tak akan pernah sanggup mengejar negara negara yang keduluan maju pendidikan tingginya, bila dua hal di atas tidak dibenahi.


Persoalan pendidikan tinggi Indonesia tidak hanya diselesaikan dengan membuat regulasi dan kebijakan, tapi dibutuhkan aksi nyata, salah satunya adalah fungsi WASDALBIN (Pengawasan, Pengendalian, Pembinaan) khususnya di Perguruan Tinggi Swasta (PTS).


Kemenristekdikti, Kopertis tidak cukup hanya menyelesaikannya dengan membuat surat edaran dan lain sebagainnya, tapi dibutuhkan tindakan konkrit dan tegas.


Kondisi tersebut, tidak semua kampus dan dosen menggalami, di beberapa kampus mulai berbenah. Khususnya di kampus-kampus yang serius mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikannya dengan melengkapi fasilitas dan sarana prasarana yang memadai.


Berharap !!! Semoga ke depan, dunia pendidikan tinggi Indonesia semakin maju dan berkembang.


Salam Pendidikan Tinggi Indonesia.

Follow

  • Facebook

Contact

082187078342

Address

Makassar, Sulawesi Selatan Indonesia

©2016 by Yusrin Ahmad Tosepu

bottom of page