MARI BEKERJA DAN BERKARYA
- LSP3I REGION V SULAWESI
- Feb 13, 2017
- 5 min read

Kebanyakan orang bekerja dengan tujuan tak lebih dari usaha untuk mencukupi kebutuhan hidup. Meski sebagian lagi beranggapan bekerja itu salah satu cara mencari pengalaman, belajar, bersosialisasi, dan lain sebagainya.
Kata “berkarya” terdengar masih terlalu ganjil untuk kebanyakan orang. Umumnya, berkarya dianggap soal penciptaan sesuatu. Tapi di luar semua persepsi itu, bekerja dan berkarya sebenarnya berpengaruh dengan kesuksesan. Hakikatnya, Kesuksesan adalah hasil pencapaian kerja dan karya secara materi, pengalaman serta kepuasan batin.
Berkarya artinya mengerjakan suatu pekerjaan sampai menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang. Karya tersebut dapat berupa benda, jasa, atau hal yang lainnya. Berkarya adalah bagian dari Menghargai hidup dan menjiwai kehidupan.
Berkarya merupakan salah satu upaya menjaga keserasian hidup antar manusia dan alam semesta agar terwujud kehidupan yang seimbang antara manusai dan alam semesta.
Kerja adalah aktivitas yang dinamis dan bernilai, tidak dapat dilepaskan dari faktor fisik, psikis dan sosial. Nilai yang terkandung dalam kerja bagi individu yang satu dengan lainnya tidaklah sama. Nilai tersebut dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam bekerja.
Contoh Profesi Dosen. Salah satu tugas utama dosen adalah mendidik dan mengajar. Mendidik dan Mengajar bisa menjadi bekerja atau bisa juga menjadi berkarya. Seorang dosen yang mendidik dan mengajar di kampus dari jam 8 pagi hingga 4 sore mungkin menganggap selama waktu tersebut dia bekerja mendidik dan mengajar mahasiswa untuk mendapatkan uang/gaji. Namun pada saat di rumah, seorang dosen medidik dan mengajar untuk anak dan keluarganya. Dia menganggapnya bukan bekerja tapi berkarya karena ketika mendidik dan mengajar anak dan keluarganya dia merasakan kepuasan dan kesenangan ketika melihat keluarganya disiplin dan terdidik dengan baik, walaupun tidak dibayar.
Perbedaan antara BEKERJA dan BERKARYA terletak pada imbal balik yang di dapat. BEKERJA kita mendapatkan uang untuk waktu dan tenaga, sementara BERKARYA kita mendapatkan kepuasan batin. Dengan BERKARYA, kita rela walau tidak dibayar, dengan BERKARYA kita merasa hidup lebih berarti. Dengan BERKARYA, bikin hidup lebih hidup.
Berkarya di Tempat Kerja
Kondisi yang ideal adalah BERKARYA ditempat kerja, selain mendapatkan kepuasan batin juga dibayar. Banyak dari rekan rekan dosen yang hanya sekedar BEKERJA, tidak menikmati pekerjaan, tidak mendapatkan kepuasan, pesimis, kurang bergairah, mengeluh dan sebagainya. Dengan berbagai alasan, minim fasilitas dan sarana kerja, gaji yang tidak memadai, jadwal kegiatan yang padat, tugas dan tanggungjawab yang harus segera diselesaikan. Bahkan ada juga yang menganggap profesinya pekerjaannya sebagai dosen kurang menguntungkan dibanding dengan profesi lainnya.
BEKERJA dan BERKARYA adalah dua hal yang berbeda dan jika ingin memiliki hidup yang berarti, kita perlu BERKARYA. Tidak ada jalan lain, selain BEKERJA dan BERKARYA dalam saat yang bersamaan.
BEKERJA untuk hidup, BERKARYA untuk Kehidupan. Bekerja untuk mendapatkan uang, untuk biaya hidup, Berkarya mendapatkan kepuasan batin untuk kehidupan yang bahagia. Kita harus bekerja dengan baik, di saat yang bersamaan kita bisa BERKARYA. BERKARYA dimulai dari pekerjaan.
Berkarya untuk Kepuasan Batin
Profesi dosen adalah pekerjaan berharga dan penting (bermartabat), namun sering kali tekanan didalam pekerjaan membuat kita lupa akan hal ini, kita ditekan oleh jadwal damn kegiatan kerja yang padat, atasan, dan lain sebagainya. Akhirnya kita tidak menikmati pekerjaan, tidak mendapatkan kepuasan, pesimis, kurang bergairah, mengeluh dan sebagainya. Dengan mengimbangi bekerja dan berkarya kita merasakan semua berguna , berharga dan penting.
Mari Berkarya
Sibukan aktifitas bekerja yang dibarenggi dengan berkarya, mulailah melakukan sesuatu yang bermanfaat yang bisa membuat kita merasa hidup. Jika selama ini kita mengajar hanya sekedar transformasi ilmu pengetahuan dan keterampilan, sekarang di barenggi dengan transformasi nilai “value” agar proses pembelajaran lebih hidup dan bermanfaat. Ide, konsep, gagasan, trik, tips terbarukan dalam proses pembelajaran adalah bagian dari BERKARYA dalam BEKERJA. Meneliti dan Menulis karya ilmiah (buku, artikel, kertas kerja, dsb) dan disebarluaskan, bermanfaat oleh masyarakat adalah bagian dari BERKARYA dalam bekerja.
Daniel Pink mengutarakan ada 3 hal yang membuat seseorang termotivasi didalam pekerjaannya :
MASTERY (Penguasaan suatu keahlian), ketika seseorang merasakan pertumbuhan didalam keahliannya maka orang tersebut akan semakin termotivasi untuk terus BERKARYA
AUTHORITY (Mempunyai wewenang), ketika seseorang mempunyai wewenang dan bisa memutuskan sendiri apa dan bagaimana untuk melakukan sesuatu maka ia akan semakin termotivasi untuk BERKARYA
PURPOSE (Aktifitas ini berarti), ketika seseorang merasakan bahwa KARYA yang dihasilkan mempunyai arti , maka ia akan semakin termotivasi untuk BERKARYA.
Dengan berkarya akan menimbulkan rasa percaya diri dan citra diri yang baik.
Berkarya adalah Investasi Hidup dan Kehidupan
BERKARYA tidak identik dengan mendapatkan uang, karena ada orang-orang yang memang tidak mengejar uang semata. Hasil KARYA yang dikerjakan dari hati (dijiwai dan dicintai), dan dilengkapi dengan pengalaman dan ketrampilan yang cukup pasti akan lebih besar hasilnya, dan akan lebih bernilai.
Agar lebih termotivasi dalam bekerja dan berkarya. Berikut penjelasan secara detail tentang perbedaan mendasar antara bekerja dan berkarya.
1. Kerja bermodal kemampuan saja cukup. Berkarya perlu hati untuk melakukannya
Umumnya, urusan memilih pekerjaan tak lepas dari materi. Menganggap bekerja itu yang penting dapat uang, kebutuhan tercukupi dan akhirnya sukses secara materi. Modal untuk bekerja itu sederhana, cukup memiliki kemampuan- kecakapan.
Sedangkan berkarya tak bisa hanya modal kemampuan saja, tapi hati pun ikut andil. Jika ingin mengerjakan sesuatu yang benar-benar kamu suka dan membuatmu nyaman. Paling tidak, apa yang di kerjakan tak terasa sebagai beban, tapi keasyikan tersendiri yang bisa membuatmu lupa waktu. Tak peduli jika orang menganggapmu pilih-pilih soal kerjaan. Sebab kamu tidak sekedar bekerja, melainkan berkarya.
2. Bekerja itu menyelesaikan “Tugas dan Tanggungjawab”. Berkarya menciptakan sesuatu yang berguna dan punya “VALUE”
Tugas ataupun tanggungjawab bukan hal yang tabu untuk para pekerja. Karena itu memang konsekuensi logis dari sebuah pekerjaan baik yang bekerja sebagai dosen, pegawai/karyawan perusahaan swasta, negeri, atau lembaga tertentu. Setiap harinya, tugas-tugas itu mengejar dan meminta untuk segera diselesaikan. Pendapat kasarannya, setiap hari yang ada kata menyelesaikan dan menyelesaikan tugas saja.
Beda ceritanya dengan berkarya, kegiatan setiap harinya pasti selalu fleksibel. Tak terpaku dengan tugas yang sama setiap hari. Selalu punya hal baru untuk dieksplor. Banyak banyak kesempatam untuk menciptakan sesuatu yang berguna untuk orang lain. Paling tidak hasil karya punya “NILAI” yang membuat orang bisa menikmati atau mengambil kebaikan darinya.
3. Bekerja pada akhirnya untuk kepuasan Pimpinan dan organisasi semata. Berkarya, kepuasan untuk diri dan semua.
PUJIAN salah satu pertanda pekerjaan berjalan dengan baik dan semestinya. Juga sebagai gambaran kepuasan seorang atasan kepada bawahan. Pencapaian terbesar dari bekerja selain urusan materi, urusan kesenangan pimpinan dan organisasisi. Sebagian orang rela melakukan bermacam-macam cara agar pimpinan atau organisasi/perusahaan pun segera puas.
Sementara untuk yang memilih berkarya, pencapaian terbesar dari hasil berkarya adalah kepuasan, kesenangan, dan kebahagiaan batin, serta kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Mengingat dalam berkarya itu tak lain untuk diri sendiri. Diri sendiri yang menentukan gambaran untuk hasil yang harus dicapai. Tanpa perlu terlalu bernafsu demi pujian atau kepuasan orang lain.
4. Bekerja menuntut seseorang yang perfeksionis. Berkarya mengasah selera dan pemikiran jadi lebih kritis
Pimpinan menginginkan bawahan bisa memperlakukan klien dengan sangat baik, bisa menyelesaikan projek dengan nol kesalahan alias sempurna, bisa mencapai target yang sudah ditentukan setiap bulannya. Intinya bekerja menuntut seseorang yang perfeksionis. Bawahan tak bisa seenaknya, kalau ingin kehidupan karir di perusahaan aman dan selamat.
Walaupun pada umumnya, ada orang yang merasa tak masalah dengan keperfeksionisan. Tapi ada juga yang menganggap kesempurnaan itu bukan segalanya. Sebab terkadang keindahan sesuatu terletak di kekacauan yang tak sengaja muncul. Kesempurnaan terkadang justru akan mengikis daya kritis alias kekritisan. BEKERJA akan selalu mengikuti arus. Sedangkan BERKARYA selalu punya cara untuk keluar dari arus dan mempertahankan semua rasa keingintahuan pada banyak hal.
5. Bekerja tujuan materi semata. Berkarya tak hanya untuk kaya, tapi juga jadi manusia berbudaya
Bekerja itu untuk cari uang. Umumnya, orang tua mengajarkan pada anaknya pandangan seperti itu. Ada benarnya, karena salah satu tujuan terbesar dari bekerja itu untuk kemapanan materi. Tapi berkarya, materi bisa saja masuk dalam tujuan yang kesekian. Tak peduli dengan ucapan orang, jika berkarya itu tak bisa cukup membiayai hidup. Selama berusaha, rezeki pasti ada.
Satu hal yang perlu diketahui, BERKARYA adalah salah satu wadah untuk menjadi manusia yang lebih berbudaya. Pemikirantak tak dibatasi oleh persoalan materi saja. Tapi juga persoalan mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Sekarang adalah zamannya, berkarya menghasilkan pundi-pundi rupiah. Semua kembali lagi bagaimana mengemas karya menjadi sesuatu yang menarik dan bermanfaat untuk orang lain.
Sekarang bukan lagi saatnya Bekerja sekedar kesuksesan materi, tapi sudah saatnya berkarya demi kesuksesan di segala aspek. Berhenti pesimis, mengeluh dan sebagainya. Mari nikmati, jiwai dan cintai pekerjaan dan mulailah BERKARYA.
Semoga bermanfaat!!! Sukses selalu dan tetap semangat dalam bekerja dan berkarya.
Salam Pendidikan Tinggi Indonesia.
Sumber :
http://unsplash.com
http://sapiterbang.asia/
http://pengertian-kerja-menurut-para-ahli.html